Miris Penjualan Mobil RI, Tak Pernah 100.000 Unit Sejak Januari 2025

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan mobil nasional secara tahunan mulai mengalami peningkatan, meski secara bulanan masih mengalami penurunan.

Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional secara tahunan meningkat 7% menjadi 66.446 unit pada Januari 2026, dari sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu mencapai 62.084 unit. Secara bulanan, angka ini anjlok  29% dari Desember 2025 yang mencapai 94.102 unit.

Sejak Januari 2025 hingga Januari 2026, penjualan mobil di Indonesia mengalami pasang surut, di mana penjualan sempat anjlok pada April 2025, namun kembali bergeliat pada Desember 2025.

Pada April 2025, penjualan mobil tercatat hanya mencapai 52.108 unit, menjadikan penjualan mobil terendah di Indonesia sepanjang 2025. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni Maret 2025, penjualan turun 28%.

Di April 2025, fenomena setelah Lebaran 2025 menjadi faktor penyebab anjloknya penjualan mobil di saat itu.

Namun di Desember 2025, penjualan mobil terlihat bergeliat, di mana penjualannya mencapai 94.102 unit atau naik 27% secara bulanan. Hal ini menjadikan Desember sebagai bulan dengan penjualan tertinggi di 2025.

Momentum pembalikan arah penjualan mobil RI di akhir 2025 terjadi karena adanya beberapa alasan mulai dari diskon mobil hingga fenomena akhir tahun yakni Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Meski sempat anjlok pada April 2025 dan kembali melonjak pada Desember 2025, tetapi penjualan mobil sejak Januari 2025 hingga Januari 2026, tidak pernah melebihi angka 100.000 unit, di mana secara rata-rata, penjualan berada di sekitar 60.000-70.000 unit. Hanya di Desember 2025 yang penjualannya nyaris menyentuh 100.000 unit.

Alasan Penjualan Mobil RI Mengalami Pasang Surut di 2025

Menurut Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto, penjualan mobil yang sempat turun drastis pada April 2025 terjadi karena libur lebaran yang dinilai terlalu lama.

"Kan libur Lebarannya juga sampai awal April, dan memang pertumbuhan ekonomi turun di bawah 5%," kata Jongkie kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/5/2025).

Akibat pertumbuhan ekonomi yang lesu itu, maka berdampak pada daya beli masyarakat, alhasil banyak yang menahan pembelian mobil.

"Iya, betul berdampak ke daya beli masyarakat," ujar Jongkie.

Namun, di Desember, justru penjualan mobil berbalik arah dan mencetak tertinggi.

Jongkie menuturkan lonjakan penjualan di Desember 2025 terjadi karena pihak agen pemegang merek (APM) menghabiskan stok 2025 dengan memberikan diskon besar-besaran.

"Lonjakan penjualan di Desember 2025, mungkin karena para APM mau menghabiskan stok 2025 dengan memberikan promosi atau diskon yang signifikan," ujarnya.

Selain faktor musiman, ketidakpastian kebijakan insentif otomotif juga turut mendorong konsumen mempercepat keputusan pembelian. Sejumlah insentif yang berlaku pada 2025, termasuk kebijakan terkait mobil listrik impor, berakhir pada Desember. Kondisi ini membuat konsumen memilih mengamankan harga sebelum potensi kenaikan terjadi pada 2026.

"Faktor lain kenaikan penjualan juga ada beberapa insentif yang berakhir di 31 Des 2025," kata Jongkie.

Ledakan penjualan di akhir tahun menjadi sinyal bahwa permintaan masih ada, meski sangat sensitif terhadap harga, promo, dan kepastian kebijakan.

Tantangan berikutnya bagi industri otomotif adalah menjaga momentum tersebut di tengah ketidakpastian ekonomi dan arah kebijakan pada 2026.

Pangsa Pasar Astra Turun, Tapi..

Secara tahunan sejak Januari 2025 hingga Januari 2026, penjualan mobil Astra meningkat hanya 1% menjadi 34.867 unit di Januari 2026, dari sebelumnya pada Januari 2025 yang mencapai 34.531 unit.

Sedangkan penjualan mobil non-Astra juga meningkat 15% menjadi 31.579 unit di Januari 2026, dari sebelumnya sebanyak 27.553 unit di Januari 2025.

Sayangnya, pangsa pasar Astra secara tahunan mengalami penurunan, dari sebelumnya pada Januari 2025 mencapai 56%, pada Januari 2026 turun menjadi 52%.

Di mobil Astra secara tahunan, penjualan yang mengalami kenaikan terjadi di merek Daihatsu yang mencapai 25%, dari sebelumnya pada Januari 2025 mencapai 9.983 unit, menjadi 12.513 unit di Januari 2026.

Namun, merek Toyota-Lexus secara kumulatif menurun 9,05% menjadi 20.127 unit pada Januari 2026, dari sebelumnya periode yang sama tahun lalu sebanyak 22.132 unit.

Sementara di mobil non-Astra, penjualan merek BYD-Denza tumbuh signifikan mencapai lima kali lipatnya atau mencapai 362%, dari sebelumnya Januari 2025 sebanyak 1.139 unit, menjadi 5.271 unit di Januari 2026.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |