Mentimun Mendadak "Elite", Simbol Baru Krisis Biaya Hidup Rusia

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mentimun di Rusia meroket tajam selama musim dingin ini. Situasi ini mengubah komoditas itu dari sayuran sehari-hari menjadi simbol terbaru kenaikan harga di tengah tekanan ekonomi akibat perang, hingga memicu kritik dari politisi dan pengawasan dari regulator.

Data resmi menunjukkan harga mentimun rata-rata telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak Desember, kini mencapai lebih dari 300 rubel per kilogram atau setara sekitar Rp 65.500/kg.

Lonjakan ini mendapatkan sorotan tajam dari pengguna media sosial yang membagikan foto-foto mentimun yang dijual dengan harga dua sampai tiga kali lipat dari harga tadi.

Di tengah kritik publik, regulator antimonopoli Rusia mengirim surat kepada produsen dan pengecer meminta penjelasan kenaikan harga. Tekanan ini muncul terutama di tengah persiapan pemilihan parlemen, di mana partai penguasa menghadapi tantangan dari isu ekonomi yang menyentuh langsung kantong konsumen.

"Musim dingin ini, 'makanan lezat' baru telah muncul di toko-toko kita: mentimun," kata Sergei Mironov, pemimpin parlemen dari partai Rusia Adil, seperti dikutip Reuters, Rabu (18/2/2026).

Mironov menilai kenaikan harga ini bukan sekadar fenomena musiman, dan membandingkannya dengan lonjakan harga kentang 'emas' tahun lalu.

"Mereka menggunakan penjelasan yang sama untuk kentang 'emas' tahun lalu, dan sekarang untuk mentimun 'berlapis emas'," ujar Mironov. "Apa yang seharusnya dilakukan orang? Hanya menerima bahwa mereka tidak mampu membeli makanan pokok?"

Produsen menyatakan optimisme bahwa harga mentimun akan turun ketika cuaca menjadi lebih hangat bulan depan, dan berulang kali menekankan bahwa pasokan akan kembali meningkat saat musim tanam dimulai.

Namun, lonjakan harga mentimun ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga secara keseluruhan sebesar 2,1% sejak awal tahun, yang dipicu sebagian oleh kenaikan pajak pertambahan nilai, serta kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan biaya utilitas, bensin, dan sembako lainnya.

Beberapa supermarket di wilayah Siberia bahkan membatasi jumlah pembelian per pelanggan karena harga mentimun kini lebih mahal dari buah impor seperti pisang. Sementara itu, media lokal melaporkan inisiatif unik seperti pembagian benih mentimun oleh salah satu surat kabar terlaris Rusia agar konsumen dapat menanam sendiri di rumah.

Anggota parlemen dari partai penguasa, Yevgeny Popov, mencoba meredam kekhawatiran publik lewat media sosial, meyakinkan bahwa harga mentimun akan turun dan Rusia sepenuhnya swasembada dalam produk tersebut. Namun pernyataannya mendapat reaksi balik dari warganet.

"Harga mentimun dan tomat sangat keterlaluan," tulis seorang pengguna yang menyebut namanya Svetlana. "Dahulu orang bilang telur itu 'emas' (karena harganya sangat mahal). Sekarang mentimun lah yang 'emas'."

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |