Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pembayaran utang proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh yang menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) belum bersifat final.
Ia menegaskan, skema pembayaran utang Whoosh dengan APBN itu baru sebatas usulan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, selaku pengelola BUMN. Bukan merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Belum ada petunjuk khusus dari presiden. Adanya dari Rosan (CEO Danantara), dari itu kan belum clear," kata Purbaya di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Meski begitu, Purbaya mengakui, bila skema pembayaran utang proyek pembangunan Whoosh dengan APBN ia terima dari hasil petunjuk Presiden Prabowo Subianto, maka akan langsung ia laksanakan.
"Saya kalau ada petunjuk presiden saya kerjain, sekarang belum. Paling enggak ada, tapi belum firm," tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin mengungkapkan pemerintah telah memberikan solusi yang dijamin oleh Presiden Prabowo Subianto, terkait penyelesaian utang Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung.
"Sudah, sudah beres kan, kan waktu itu Presiden sudah bilang. Sudah beres, sudah beres," ujarnya saat ditemui di gedung DPR RI Jakarta, Senin (9/2/2026).
Seperti diketahui, Prabowo memang pernah menekankan, pemerintah harus membayar senilai Rp 1,2 triliun per tahun untuk memenuhi kewajiban penyelesaian proyek itu. Menurutnya, hal itu sebanding dengan banyak manfaat yang didapatkan rakyat dari proyek kereta cepat ini. Seperti mengurangi kemacetan, polusi, hingga transfer teknologi yang canggih dari China.
Bobby menyebut, terkait dengan tata pelaksanaannya pembayaran utang proyek Whoosh, masih dibahas dengan pemerintah dan sedang dirumuskan finalisasinya.
"Tata laksananya lagi dibicarakan dengan pemerintah, sedang dirumuskan. Pokoknya sudah beres, selesai," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan, saat ini Danantara tengah melakukan negosiasi pada tahap akhir dengan pihak China terkait penyelesaian utang Whoosh.
"Kemarin laporan terakhir rapat di Danantara masih finalisasi. Sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh pak Rosan sebagai CEO Danantara," kata Prasetyo, di Stasiun Gambir, Selasa (10/2/2026).
(arj/haa)
Addsource on Google

















































