Menteri Kebudayaan Canangkan Hari Filateli Nasional 2026

7 hours ago 1

Jakarta -

Menteri Kebudayaan RI sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI) Fadli Zon mencanangkan Hari Filateli Nasional (HFN) 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan nasional sekaligus momentum penguatan filateli sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan.

Peringatan HFN 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi antara PFI, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Digital, dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Adapun acara itu mengusung tema 'Filateli-Budaya Koleksi Anak Negeri' yang dihadiri oleh peserta dari berbagai unsur, mulai dari komunitas filatelis, akademisi, pelajar, hingga pemangku kepentingan kebudayaan.

Fadli Zon menegaskan bahwa filateli bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari kebudayaan material yang menyimpan banyak cerita dan sejarah bangsa. Dirinya menjelaskan bahwa sejak masa awal Kemerdekaan, perangko telah menjadi bagian dari identitas nasional sekaligus media komunikasi yang merekam berbagai peristiwa penting, mulai dari budaya, organisasi, hingga dinamika kehidupan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia pun turut mengulas bahwa praktik filateli memiliki akar sejarah panjang secara global, dimulai sejak kemunculan perangko pertama di dunia pada abad ke-19 yang kemudian berkembang menjadi medium ekspresi para seniman dan budayawan. Hal itu diungkapkan olehnya saat di Yogyakarta, Minggu (29/3/2026).

"Di Indonesia sendiri, penerbitan perangko sejak masa kolonial hingga era republik telah menjadi penanda penting perjalanan sejarah bangsa," kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, perangko dan benda filateli merupakan penanda zaman yang memotret berbagai peristiwa, mulai dari kekayaan budaya, rumah adat, wastra Nusantara, hingga organisasi dan peristiwa nasional. Dia menambahkan bahwa filateli tidak hanya berfungsi sebagai benda koleksi, tetapi juga sebagai medium dokumentasi sejarah yang terus hidup hingga saat ini melalui berbagai pameran dan kegiatan internasional.

"Filateli adalah benda kecil yang menyimpan cerita besar bangsa. Ia merekam sejarah, identitas, dan perjalanan budaya kita," ujarnya.

Lebih lanjut, Fadli Zon menyampaikan bahwa di tengah perkembangan teknologi komunikasi, filateli tetap memiliki nilai penting sebagai sarana edukasi yang mengajarkan ketekunan, ketelitian, dan pemahaman sejarah. Dia menekankan bahwa filateli memiliki potensi sebagai instrumen diplomasi budaya, sebagaimana praktik penerbitan prangko bersama antarnegara yang telah dilakukan di berbagai belahan dunia.

"Ke depan, filateli dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat diplomasi budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia," ungkapnya.

Dia juga menegaskan bahwa pengembangan filateli sejalan dengan amanat konstitusi untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, serta perlu didorong melalui kolaborasi lintas komunitas dan berbagai platform kebudayaan.

Rangkaian kegiatan HFN 2026 mencakup pengecapan cap slogan di kantor pos Yogyakarta pada 28 Maret hingga 30 April 2026, seminar nasional filateli, pameran, lokakarya bagi guru dan mahasiswa, pertemuan pelaku kartu pos, serta berbagai lomba dan peluncuran produk filateli. Kegiatan ini juga dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari gerakan budaya yang inklusif, seperti di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Dalam acara seremonial, turut dilakukan penandatanganan Sampul Peringatan Filateli 'HFN 2026' oleh Menteri Kebudayaan bersama sejumlah pejabat yang hadir. Selain itu, turut diluncurkan buku kartu pos berjudul 'Kartu Pos Bergambar Djocjocarta' karya Fadli Zon dan Mahpudi yang kemudian diserahkan kepada para penandatangan sebagai bagian dari rangkaian acara.

Turut hadir sejumlah tokoh dalam kegiatan ini, antara lain Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo; Walikota Semarang, Agustin Wilujeng Pramestuti; Ketua Tim Strategi Pengembangan Industri Pos dan Kurir Kementerian Komunikasi dan Digital, Muhammad Fadh; Direktur Komersial PT. Pos Indonesia, Daud Joseph; serta Dewan Penasehat PFI, Woro Widiastuty. Turut mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana.

Menutup kegiatan, Menteri Kebudayaan secara resmi mencanangkan Hari Filateli Nasional setiap 29 Maret sebagai bagian dari upaya bersama dalam memperkuat ekosistem kebudayaan nasional. Dirinya berharap agar pencanangan Hari Filateli Nasional ini tidak hanya menjadi agenda tahunan semata.

Hal itu juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat identitas budaya bangsa serta memperluas peran filateli di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aria Nugrahadi menyampaikan bahwa filateli memiliki posisi penting sebagai ruang untuk merekam jejak sejarah bangsa.

Dia menilai bahwa meskipun era digital telah mengubah cara berkomunikasi, filateli tetap relevan sebagai media pembelajaran lintas generasi.

Aria Nugrahadi menekankan bahwa tantangan digitalisasi harus menjadi momentum pembaruan agar filateli mampu menjangkau generasi muda secara kreatif dan inklusif. Selain itu, filateli dinilai dapat menjadi sarana edukasi yang memperkenalkan berbagai nilai, mulai dari sejarah perjuangan bangsa hingga kekayaan budaya Indonesia.

"Filateli bukan hanya aktivitas koleksi, tetapi juga sarana edukasi yang kaya nilai dan makna sejarah," ujarnya.

Wakil Ketua Panitia Hari Filateli Nasional 2026 Yetti Martanti menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan filateli di Indonesia. Dia menjelaskan bahwa penyelenggaraan HFN 2026 merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk kementerian, pemerintah daerah, dan komunitas filateli.

Yetti menyebutkan bahwa filateli bukan sekadar aktivitas berkirim surat, tetapi ruang kecil yang menyimpan ingatan besar bangsa, mulai dari peristiwa sejarah hingga nilai budaya. Melalui peringatan ini, panitia ingin mendorong filateli sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan sekaligus media edukasi bagi generasi muda.

"Melalui tema 'Filateli Budaya Koleksi Anak Negeri' kami mengajak generasi muda untuk mengenal dan mencintai filateli sebagai media belajar dan ekspresi budaya," tutupnya.

Tonton juga video "Fadli Zon: LPDP Sebaiknya untuk Orang Tak Mampu yang Berprestasi"

(akn/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |