Jakarta -
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menggelar diskusi bersama sejumlah seniman yang akan tampil dalam Venice Biennale 2026. Diskusi tersebut berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, dan membahas kesiapan kontingen seni rupa Indonesia yang akan berpartisipasi dalam ajang seni rupa internasional tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai persiapan dibicarakan, mulai dari konsep karya hingga strategi menampilkan karya seni Indonesia di panggung global.
Fadli Zon menegaskan Venice Biennale merupakan ajang yang sangat penting bagi perkembangan seni rupa dunia. Selain itu, ajang tersebut juga menjadi ruang strategis untuk menampilkan wajah seni dan budaya Indonesia kepada publik internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah satu kesempatan juga untuk promosi budaya kita. Karena banyak sekali talenta, bakat, dan juga tentu seniman budayawan yang hebat," jelas Fadli, dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).
Selain menampilkan karya para seniman, Paviliun Indonesia juga direncanakan menghadirkan berbagai buku seni rupa Indonesia sebagai bagian dari ruang referensi selama pameran berlangsung. Kehadiran buku-buku tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan tradisi seni rupa Indonesia kepada pengunjung internasional.
Fadli menyampaikan melalui buku-buku tersebut, pengunjung dapat melihat keberagaman genre, gaya, hingga mazhab seni rupa Indonesia yang berkembang dari masa ke masa.
Ia juga menjelaskan seni rupa di Indonesia merupakan bagian dari warisan tradisi nenek moyang yang telah berkembang sejak lama dan menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa.
"Baru saja tanggal 22 Januari, lukisan purba tertua di dunia dinyatakan ada di Indonesia, umurnya 67.800 tahun. Jadi tradisi (seni rupa) itu bukan tradisi baru, tapi tradisi panjang yang ada di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra," jelasnya.
Ia juga telah menunjuk Aminuddin TH Siregar, yang akrab disapa Ucok dan merupakan kurator Galeri Nasional Indonesia, sebagai kurator Paviliun Indonesia dalam ajang tersebut. Dalam partisipasi kali ini, Indonesia direncanakan akan mengirimkan sebanyak 14 perupa untuk memamerkan karya mereka di panggung seni rupa internasional tersebut.
Aminuddin menjelaskan konsep presentasi Paviliun Indonesia tidak hanya menampilkan karya para seniman, tetapi juga menghadirkan konteks sejarah dan perkembangan seni rupa Indonesia. Hal itu akan ditampilkan melalui berbagai referensi grafis serta arsip visual yang merekam perjalanan seni rupa di Tanah Air.
"Gagasannya adalah memperlihatkan beberapa karya grafis yang terkait dengan Indonesia di masa lalu, termasuk buku-buku tua, litografi, dan berbagai materi visual lain yang dapat memberikan gambaran tentang perkembangan seni rupa Indonesia," jelas Aminuddin.
Turut mendampingi Fadli dalam kesempatan tersebut, yakni Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retno Astuti, serta Direktur Promosi Kebudayaan Undri.
Sebagai informasi, pameran utama Venice Biennale 2026 akan dibuka untuk publik pada 9 Mei 2026 dan berlangsung hingga 22 November 2026. Pada edisi kali ini, Paviliun Indonesia direncanakan berada di sebuah bangunan sekolah grafis di Venesia, berbeda dengan beberapa edisi sebelumnya yang menempati area utama pameran.
Partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale 2026 juga menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem seni dalam kerangka Manajemen Talenta Nasional yang dikembangkan Kementerian Kebudayaan. Program tersebut mencakup lima ekosistem utama, yakni sastra, seni rupa, seni pertunjukan, film, dan musik.
Proses pemilihan seniman yang akan mengikuti ajang tersebut dilakukan melalui proses kurasi yang ketat. Langkah ini bertujuan menjaring talenta-talenta muda sekaligus memperluas jejaring mereka di tingkat global.
Indonesia sendiri dipastikan kembali berpartisipasi dalam ajang seni rupa internasional Venice Biennale 2026 setelah sempat absen selama enam tahun. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari strategi diplomasi budaya dan penguatan soft power pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia di panggung dunia.
Melalui partisipasi ini, pemerintah berharap seni rupa Indonesia semakin dikenal secara luas di tingkat internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi dan jejaring global bagi para seniman Tanah Air.
(akn/ega)


















































