Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Melihat film kartun "Tom and Jerry´ yang para aktornya sangat elastis dan mampu survive meskipun dihantam dengan benturan benda keras. Pun demikian dengan kartun Doraemon yang mampu berubah wujud, menembus batas dimensi, memberikan solusi bagi Nobita.
Cerita pada tayangan untuk anak, remaja dan orang dewasa yang juga bisa menikmatinya sejujurnya bisa kita petik makna di balik narasi dan gambar yang dibangun. Angle dalam melihat film pada cerita anak-anak akan sangat beragam dan banyak variasinya.
Tentu jika pemirsa menonton film dengan genre anak-anak akan menangkap kesan bahwa ceritanya cocok untuk usia anak-anak. Tetapi boleh jadi film tersebut bisa dilihat dari sudut pandang berbeda tidak an sich untuk anak-anak tetapi melihatnya dari angle berbeda yang mungkin jauh dari konteks anak-anak.
Gabungan alat dan cara yang apik dalam menggambarkan secuil contoh narasi yang dibangun pada cerita film kartun yang disematkan sebagai genre anak-anak. Alam pikiran seolah diberikan sangu atau bekal imaginasi masa depan dan romantisme masa lalu.
Adegan film yang bisa kita gambarkan dalam realitas interaksi sosial yang sesungguhnya. Para aktor yang berkumpul dalam organisasi dalam mencapai tujuan. Organisasi atau perusahaan yang mampu survive dari perubahan zaman, pasar, bisnis dan demand harus punya kesadaran tentang keberadaannya. Perusahaan yang mampu eksisten pada berbagai macam dinamika masa meniscayakan punya kelekatan dengan sifat kreatif, inovatif dan adaptif.
Salah satu perusahaan yang bisa kita renungkan adalah perusahaan bernama Kongo Gumi. Dikutip dari Works That Work bahwa Kongo Gumi merupakan perusahaan tertua di dunia. Berdiri di Osaka, Jepang pada 578 Masehi. Perusahaan tersebut didirikan satu abad setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi dan bergerak di bidang konstruksi, restorasi, desain, dan perbaikan bangunan warisan budaya.
Perusahaan ini menjadi pelopor penggunaan beton dengan kayu untuk konstruksi kuil. Selama lebih dari 1.400 tahun, Kongo Gumi berhasil bertahan dari perubahan ekstrem dalam budaya, pemerintahan, dan ekonomi Jepang. Gulungan abad ke-17 berukuran lebih dari tiga meter mendokumentasikan 40 generasi telah bekerja di perusahaan tersebut. Kini, Kongo Gumi menjadi anak perusahaan Takamatsu Construction Group pada 2006 setelah mengalami masalah ekonomi di awal abad ke-21.
Contoh tersebut memberikan persepsi kepada kita bahwa perusahaan yang mampu bertahan lebih dari seribu tahun sudah tentu mengalami berbagai macam turbulensi pada setiap masanya. Persepsi awal secara umum bisa kita tangkap adalah, ternyata ada perusahaan yang mampu bertahan ribuan tahun lamanya.
Entitas organisasi tersebut juga mampu menyesuaikan dinamika zaman (yang kita kesampingkan kesehatan organisasi tersebut). Kita mestinya kita bisa mempelajari, menangkap dan mengungkap bagaimana bisa bertahan selama itu. Kabar baiknya juga bahwa di Indonesia ada perusahaan yang mampu bertahan lebih dari 100 tahun lebih di Indonesia, sebut saja PT Pos Indonesia (1746), Bank BRI (1895), Unilever (1933) atau Kimia Farma (1817).
Organisasi Berkesadaran
Ada elastisitas, fleksibilitas, pertahanan, ketahanan, adaptasi, kreatifitas, inovasi dan tentu visi yang jauh ke depan tentang eksistensi melekat dalam organisasi atau Perusahaan berkesadaran. Perusahaan yang memiliki level endurance yang tinggi tentu akan mampu menembus batas ruang dan waktu.
Ruang sebagai medan pertempuran bisnis (red ocean) mampu dihadapi secara apik oleh organisasi yang mampu membacanya dengan detail. Data dan informasi menjadi sumber daya awal yang mampu dikelola dengan baik bagi organisasi yang melintasi setiap zaman. Data dan informasi juga seolah ingin mewarnai orkestrasi dinamika tumbang dan tumbuhnya Perusahaan dengan berbagai analisanya.
Kelekatan karakter organisasi yang dimiliki oleh organisasi juga tak melupakan bagaimana merajut komunikasi dengan stakeholder yang membersamai. Kesadaran organisasi yang hidup dalam ruang publik seringkali terlupa disebabkan karena berbagai macam hal, seperti kebesaran organisasi, penguasaan market, meroketnya branding dan lain sebagainya.
Organisasi berkesadaran hadir untuk memampukan tumbuhnya kesadaran akan eksistensi organisasi lainnya. Sehingga kesadaran organisasi digunakan untuk merangkai hubungan secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Narasi itu sepertinya selaras dengan teori stakeholder yang pertama kali diperkenalkan oleh R. Edward Freeman tahun 1984.
Teori ini berkaitan dengan etika bisnis dan manajemen strategi dalam pengelolaan organisasi. Perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri akan tetapi kegiatannya juga harus memberikan manfaat bagi stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain).
Pembenahan, penyempurnaan, dan continuous improvement pada setiap organisasi menjadi keniscayaan agar resiliensi organisasi mampu mengimbangi dinamika market. Energi positif harus tumbuh dan merekah dalam setiap anggota, pekerja atau para pelaku usaha untuk menghadapi turbulensi yang semakin keras.
Baik VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), climate change yang mengharuskan adanya perubahan energi dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik merupakan beberapa faktor yang perlu disikapi secara serius. Jika tidak dihadirkan dan ditumbuhkan maka proses menjadinya organisasi berkelanjutan menjadi isapan jempol belaka.
Kehancuran dan tumbangnya organisasi tidak akan melihat besar dan kecilnya organisasi. Sepertinya pohon, hewan dan manusia tidak akan ada yang tahun kapan punah (mati). Resiliensi organisasi hanya akan berlanjut jika organisasi berkesadaran menjadi mindset melekat, yang kelekatannya mampu menjadi energi gerak yang konsisten atau istiqomah.
Gerak tersebut tidak hanya menghasilkan ketahanan organisasi atau perusahaan tetapi kesehatannya. Pada akhirnya ukuran organisasi keberlanjutan adalah organisasi berkesadaran yang mampu menghadirkan kesehatan keuangan (rasio likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas) dan kesehatan lingkungan kerja yang produktif serta berkelanjutan.
(miq/miq)


















































