Jakarta, CNBC Indonesia - Di kalangan pelaku pasar modal, ada satu mitos yang selalu dinanti setiap akhir tahun yaitu Santa Claus Rally. Fenomena ini bukan sekadar cerita pengantar tidur.
Secara historis, Wall Street mencatat bahwa bursa saham memiliki kecenderungan kuat untuk menghijau di minggu terakhir Desember hingga awal Januari. Sentimen liburan, bonus akhir tahun, hingga optimisme menyambut tahun baru menjadi bahan bakar utamanya.
Tapi pertanyaannya, apakah "Sinterklas" juga rajin mampir ke Bursa Efek Indonesia (BEI)? Atau justru ia sering absen karena terhalang sentimen global?
Tim Riset CNBC Indonesia membedah data historis 10 tahun terakhir (2015-2024) untuk melihat probabilitas terjadinya Santa Claus Rally di IHSG tahun ini. Berikut adalah kinerja IHSG selama 10 tahun terakhir dari pembukaan hingga penutupan akhir tahun:
Jejak Historis Pada Bulan Desember
Jika mengacu pada rapor kinerja IHSG per akhir Desember dalam satu dekade terakhir, investor boleh sedikit bernapas lega. Statistik menunjukkan dominasi tren bullish yang cukup tebal.
Dari data 2015 hingga 2024 dapat dilihat bahwa IHSG berhasil menempuh penutupan kinerja sebagai berikut:
-
Zona Hijau (Menguat): 8 kali
-
Zona Merah (Melemah): 2 kali
-
Win Rate: 80%
-
Rata-rata Kenaikan: +2,62%
Tahun 2017 dan 2020 adalah bukti sahih kedahsyatan reli ini. Pada 2017, IHSG terbang +6,78% didukung fundamental ekonomi yang solid. Sementara di 2020, euforia ritel dan vaksin mendorong indeks melesat +6,53%. Di periode ini, Santa Claus Rally benar-benar memberikan kado manis bagi investor yang setia memegang barang hingga tutup tahun.
Peringatan Bahwa Bulan Desember Tidak Selalu Hijau
Namun, data historis juga menyimpan cerita kelam. Mitos bahwa "Desember pasti naik" terpatahkan telak pada tahun 2022.
Saat itu, alih-alih reli, IHSG justru ambles -3,26%. Penyebabnya bukan karena Sinterklas lupa jalan, tapi karena dihadang oleh The Fed. Kenaikan suku bunga agresif AS membuat likuiditas global kering, memicu capital outflow masif yang mematikan potensi reli.
Begitu pula di 2024, pasar berakhir antiklimaks dengan penurunan tipis -0,48%. Efek wait and see pasca-tahun politik membuat pasar sepi, sehingga Santa Claus Rally gagal terbentuk.
Outlook Desember 2025 Potensi Reli di Tengah Transisi
Menatap penghujung 2025, peluang terjadinya Santa Claus Rally masih terbuka lebar, namun dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Kunci utamanya ada pada Likuiditas. Reli akhir tahun biasanya terjadi karena volume perdagangan yang menipis (banyak institusi libur), sehingga sedikit saja dorongan beli bisa mengerek harga saham naik signifikan.
Tahun ini, pasar menanti dua katalis:
-
Pelonggaran Moneter: Jika The Fed memberikan sinyal dovish di pertemuan terakhir tahun ini, Dolar AS akan melemah. Ini akan memancing hot money masuk kembali ke Emerging Market termasuk Indonesia, memicu reli di saham-saham Big Caps.
-
Belanja Pemerintah: Realisasi anggaran di akhir tahun fiskal pertama pemerintahan baru diharapkan mampu memutar roda ekonomi domestik, memberikan sentimen positif pada sektor Konsumer dan Perbankan.
Foto: Ketua Dewan Federal Reserve Jerome Powell berbicara saat konferensi pers di Federal Reserve di Washington, Rabu, 12 Juni 2024. (AP/Susan Walsh)
Manfaatkan Momentum, Tapi Tetap Waspada
Data statistik 80% kemenangan di bulan Desember memang menggoda. Namun, investor cerdas tidak hanya bergantung pada kalender.
Pelajaran dari 2022 dan 2024 mengajarkan kita untuk jangan melawan arus makro. Jika Rupiah stabil dan asing mulai mencatatkan net buy, maka strategi trend following untuk menunggangi gelombang Santa Claus Rally bisa sangat menguntungkan.
Fokuskan radar pada saham-saham penggerak indeks (movers) seperti perbankan dan saham energi pilihan. Biasanya, sektor inilah yang paling duluan dijemput "kereta kencana" Sinterklas sebelum tahun berganti.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)


















































