Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di sektor hilirisasi sejak Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp 584,1 triliun. Hal ini naik 43,3% dibandingkan realisasi pada tahun 2024.
Dalam paparan Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan P Roeslani disampaikan, bahwa kontribusi realisasi investasi hilirisasi terbesar disumbang dari sektor mineral yang mencapai total Rp 373,1 triliun. Rinciannya: Nikel Rp 185,2 triliun, Tembaga Rp 65,9 triliun, bauksit Rp 53,1 triliun. Sementara besi baja Rp 39,2 triliun, timah Rp 11,3 triliun dan lainnya Rp 18,4 triliun.
Sementara itu, sektor perkebunan dan kehutanan mencapai total Rp 144,5 triliun. Diantaranya kelapa sawit Rp 62,8 triliun, kayu log Rp 62,2 triliun, karet Rp 12,9 triliun dan lainnya Rp 6,6 triliun.
Adapun sektor minyak dan gas bumi mencapai total Rp 60 triliun. Rinciannya minyak bumi Rp 41,7 triliun dan gas bumi Rp 18,3 triliun. Sementara itu sektor Perikanan dan Kelautan menyumbang total Rp 6,4 triliun.
Dari realisasi investasi di sektor hilirisasi ini terdapat lima daerah tertinggi penanaman modal hilirisasi. Diantaranya adalah Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai Rp 110 triliun, Maluku Utara Rp 74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp 41,3 triliun dan Jawa Timur Rp 36,7 triliun.
"Sektor hilirisasi akan terus diperluas tidak hanya di mineral, tapi di sektor lain. Kita berharap ini akan mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia untuk terus berkembang, maju dan juga tidak hanya besaran nilai investasi tentunya dari yang lebih penting penciptaan lapangan pekerjaan," terang Rosan dalam Konfrensi Pers Capaian Kinerja Investasi 2025, di Kantor BKPM, Kamis (15/1/2026).
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

















































