Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar di kawasan Asia-Pasifik anjlok pada perdagangan Rabu (4/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Indeks utama Korea Selatan, Kospi, sempat merosot lebih dari 12% dan menuju hari terburuknya dalam beberapa dekade.
Bursa Korea (Korea Exchange) bahkan sempat menghentikan sementara perdagangan indeks Kospi setelah penurunan tajam tersebut. Mekanisme circuit breaker juga diaktifkan pada indeks Kosdaq yang turut anjlok sekitar 13%.
Mengutip CNBC.com, saham-saham teknologi yang menjadi penopang utama indeks ikut tertekan. Raksasa chip Samsung Electronics turun sekitar 7%, sementara produsen memori SK Hynix melemah sekitar 5%.
Padahal, pasar saham Korea Selatan sebelumnya mengalami reli kuat. Sepanjang tahun lalu, Kospi melonjak lebih dari 75% dan mencetak rekor tertinggi baru pada awal tahun ini, didorong lonjakan saham perusahaan semikonduktor seiring tingginya permintaan chip memori.
Namun, reli tersebut kini mulai terkoreksi. Direktur riset ekuitas Asia Morningstar Lorraine Tan mengatakan pelemahan Kospi salah satunya dipicu konsentrasi saham besar di indeks tersebut.
Menurut data Morningstar, Samsung Electronics dan SK Hynix menyumbang hampir 50% bobot indeks Kospi. Kondisi ini membuat indeks sangat sensitif terhadap pergerakan kedua saham tersebut.
Ia menilai penurunan harga saham juga dipengaruhi aksi ambil untung setelah reli panjang di tengah meningkatnya sikap risk-off investor global.
Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa adopsi data center berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat melambat karena kebutuhan energi yang jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional.
Dari sisi geopolitik, pasar Korea Selatan juga sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak. Daniel Yoo, global market strategist Yuanta Securities, mengatakan gejolak di Timur Tengah biasanya memicu volatilitas jangka pendek di pasar saham Korea.
Sebagai negara pengimpor minyak besar, perekonomian Korea Selatan yang berbasis manufaktur sangat rentan terhadap lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak dapat menekan sektor industri dan ekspor.
Harga minyak sendiri terus menguat di tengah konflik yang meluas di Timur Tengah. Minyak mentah AS (WTI) naik sekitar 0,5% ke US$74,9 per barel, sementara Brent meningkat hampir 1% ke sekitar US$82 per barel.
Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan berupaya menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia. Seorang komandan senior Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan jalur tersebut telah ditutup dan kapal yang mencoba melintas akan menjadi target.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons dengan menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker yang melintasi selat tersebut untuk memastikan pasokan energi global tetap mengalir.
Koreksi tajam di Korea Selatan juga terjadi di tengah pelemahan bursa Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 3,9%, sementara Topix melemah hampir 4%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun lebih dari 2%.
Indeks Hang Seng Hong Kong juga terkoreksi sekitar 2,7%, sementara indeks CSI 300 di China daratan melemah sekitar 1,6%.
Di Indonesia, volatilitas IHSG terbilang sempat anjlok hingga lebih dari 4% dan kemudian memangkas koreksi ke -3%. Seluruh sektor berada di zona merah. Beberapa saham yang bertahan di zona hijau adalah emiten-emiten energi.
(mkh/mkh)
Addsource on Google


















































