Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah insiden tak terduga dan nyaris kocak terjadi di Chandler, Arizona, Amerika Serikat, pekan lalu: sebuah robot pengantar makanan malah masuk ke tengah operasi penggerebakan tim SWAT dan tidak mau bergerak meski sudah diperintahkan polisi untuk menjauh.
Peristiwa berlangsung pada pekan lalu. Robot bernama Dot buatan DoorDash itu sedang melaju mengantar pesanan makanan melintasi jalur sepeda dan jalan raya, saat tiba di kawasan Ray Road dan Hamilton Street yang sudah dipenuhi polisi. Saat itu tim SWAT sedang menangani insiden serius terkait senjata di sebuah rumah warga, dengan peralatan lengkap dan area sudah disekat.
Masalah pun muncul. Polisi melambaikan tangan dan memberi isyarat agar robot itu berbalik arah dan pergi. Namun karena dikendalikan oleh sistem otomatis, Dot tidak mengerti perintah lisan maupun isyarat tangan manusia. Alih-alih menjauh, ia justru berhenti diam di tempat-tepat di pinggir lokasi penggerebakan, seolah menjadi penonton.
Robot seukuran troli itu akhirnya berada paling depan saat aparat melemparkan granat ke jendela rumah sasaran. Rekaman video menunjukkan Dot tetap diam tak bergeming sepanjang operasi, sampai akhirnya seorang pria keluar dari rumah dengan tangan terangkat ke belakang kepala dan diamankan polisi.
Baru setelah seluruh operasi selesai, robot itu dipindahkan secara manual. Sebuah truk DoorDash tiba dan seorang petugas manusia membawa Dot masuk ke bagian belakang kendaraan untuk dibawa pergi.
Pihak DoorDash membela kinerja alat buatannya. "Robot kami bekerja sesuai rancangan. Berhenti dan menunggu dengan aman saat pihak berwenang menangani situasi di lapangan," ujar juru bicara perusahaan. "Kami berterima kasih atas profesionalitas kepolisian Chandler dan masih meninjau insiden ini lebih lanjut".
Dot adalah model terbaru DoorDash, mampu melaju hingga 32 km/jam dan beroperasi di jalan raya maupun jalur sepeda, berbeda dari robot pengantar biasa yang hanya berjalan di trotoar. Namun kejadian ini bukan yang pertama awal tahun ini, robot sejenis juga tercatat salah masuk ke lokasi penangkapan polisi dan tempat kejadian perkara lain.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan baru: bagaimana memastikan sistem otonom bisa mengenali area darurat dan memahami perintah aparat, agar tidak menghalangi operasi penting dan tetap aman di tengah lingkungan manusia.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































