Jakarta -
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat nasional tak sekadar menguji hafalan siswa tentang materi kebangsaan. Kompetisi ini juga dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bernalar, berinovasi, hingga menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 38 sekolah tingkat SMA/SMK atau sederajat dari 38 provinsi mengikuti babak penyisihan Grand Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat nasional. Babak penyisihan digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (24/8/2026).
Babak penyisihan tersebut turut menghadirkan dewan juri, yakni Dosen Ilmu Hukum Universitas Trisakti Ninuk Wijiningsih, Lektor Kepala Fakultas Hukum Universitas Pancasila Ricca Anggraeni, serta Dosen Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta Rianda Dirkareshza.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, mengapresiasi pelaksanaan hari pertama babak penyisihan yang berlangsung dengan baik dan lancar. Menurutnya, seluruh peserta dari berbagai daerah menunjukkan semangat dan antusiasme yang sama dalam mengikuti kompetisi.
"Karena 38 provinsi, kita lihat semangat mereka masih sama seperti kemarin. Saya berterima kasih karena panitia dan sekretariat sudah bisa menghasilkan enam pertandingan full, dan mereka juga punya waktu istirahat," ujar Abraham, dalam keterangan tertulis (25/8/2026).
Abraham menegaskan, substansi utama LCC Empat Pilar MPR RI bukan sekadar menguji hafalan, melainkan membangun kemampuan siswa untuk berpikir, bernalar, dan menemukan solusi atas persoalan yang diberikan.
Menurutnya, hal tersebut terlihat dari materi soal yang menggunakan pendekatan studi kasus. Peserta tidak cukup hanya mengetahui jawaban, tetapi harus memahami persoalan secara menyeluruh sebelum menentukan pilihan yang tepat berdasarkan hukum dan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Abraham terkait esensi utama dari kompetisi tersebut.
"Lomba ini tidak sekadar menghafal, tapi bagaimana mereka dilatih untuk bisa berinovasi, berpikir, untuk menjawab studi kasus," katanya.
Ia menjelaskan, soal berbasis studi kasus memberikan tantangan tersendiri bagi peserta karena membutuhkan ketelitian dan kemampuan menganalisis. Peserta yang terburu-buru menjawab justru dapat melakukan kesalahan meskipun memiliki kemampuan menghafal materi dengan baik. Ia menilai tantangan ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat kompetisi semakin berkualitas.
"Kalau hafal semua sudah bisa. Tapi kalau studi kasus, panjang soalnya, dia kasih naik-turun. Ada yang cepat justru salah. Nah, itu yang menarik. Jadi saya kira berkualitas," lanjutnya.
Menurut Abraham, metode tersebut menjadi salah satu cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Melalui kompetisi, para siswa didorong untuk membaca, memahami aturan, menganalisis persoalan, sekaligus menghubungkannya dengan nilai-nilai kebangsaan.
Ia menilai, proses tersebut membuat pemahaman peserta terhadap Empat Pilar MPR RI semakin mendalam. Bahkan, dalam aspek tertentu, penguasaan mereka terhadap materi kebangsaan dapat melampaui sebagian orang dewasa karena para peserta terbiasa mempelajari dan mendalami persoalan melalui proses kompetisi.
Abraham juga menekankan bahwa tantangan pendidikan Pancasila saat ini bukan lagi sekadar memperkenalkan Pancasila kepada generasi muda, tetapi memastikan nilai-nilai tersebut benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai toleransi, keadilan sosial, penghormatan terhadap perbedaan, dan kehidupan bersama masih perlu terus diperkuat.
"Pancasila ini sudah banyak, sudah lama semua ini. Tapi kok toleransi masih belum seperti yang kita harapkan. Kemudian keadilan sosial masih belum yang kita harapkan. Nah, itulah, ditanamkan kembali sekarang," sambungnya.
Abraham mengatakan pentingnya penguatan pendidikan nilai-nilai Pancasila secara berkelanjutan sejak usia dini hingga perguruan tinggi. Sikap saling hidup bersama, menghargai perbedaan, disiplin, taat aturan, dan bertanggung jawab atas kepedulian sosial perlu ditanamkan serta dibiasakan sejak kecil.
Badan Sosialisasi MPR RI berkomitmen melipatgandakan partisipasi sekolah dalam LCC Empat Pilar di masa mendatang. Capaian tahun ini sendiri sudah menembus sekitar 4.000 sekolah, atau separuh dari total 8.000 sekolah yang menjadi target program.
Abraham berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah sehingga pendidikan Pancasila melalui LCC dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan siswa di seluruh Indonesia.
"Kalau kita menginginkan NKRI ini masih tetap harga mati dan roh pengikatnya, Pancasila, masih ada, itu sudah oke," pungkasnya.
Sebanyak 20 sekolah langsung menunjukkan performa terbaiknya di hari pertama penyisihan yang terbagi dalam enam pertandingan. Dari persaingan ketat tersebut, enam sekolah berhasil keluar sebagai juara grup dan melenggang ke babak semifinal.
Keenam sekolah tersebut yakni Sekolah Kristen Kalam Kudus Selat Panjang Provinsi Riau, SMAN Tugumulyo Provinsi Sumatera Selatan, SMAN 1 Tanjung Selor Provinsi Kalimantan Utara, SMAN 2 Katingan Kuala Provinsi Kalimantan Tengah, MAN Insan Cendekia Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan SMAN 1 Sambas Provinsi Kalimantan Barat.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Saiful Nuri dan Hj. Evi Apita Maya, Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Wachid Nugroho, Kepala Biro SDM, Organisasi dan Hukum Agus Subagyo, Kepala Biro Umum Herry Putra, serta Inspektur Setjen MPR RI Anies Mayangsari Muninggar.
Lihat juga Video Efek Gaslighting, Viral Disebut Terkait Kasus Cerdas Cermat MPR
(akn/ega)


















































