Jakarta -
Di halaman seluas kurang lebih 3 meter persegi depan rumahnya, Sumiyati cekatan mengambil lauk pauk hingga gorengan yang dipesan warga. Nasi uduk jadi menu andalan yang ditawarkan ke pelanggan. Di tempat inilah Sumiyati membangun usaha warung sarapan yang bernama Warung Bude Sum.
Pagi itu, Sabtu (28/5), Bude Sum--sapaan Sumiyati--sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti memesan sarapan, sehari setelah Idul Adha 2026. Ibu-ibu, anak hingga pria dewasa bergantian membeli dagangan Bude Sum. Selain nasi uduk dan gorengan, Bude Sum menjual aneka pepes, usus ayam gurih, tahu tempe semur, bihun goreng, mie goreng, ayam goreng, telur balado maupun semur, pastel, arem-arem hingga sesekali ketupat sayur.
Sebelum punya warung sarapan, Bude Sum menjual lauk-pauk dan nasi putih biasa. Jauh sebelum ini, Bude Sum sempat berjualan soto. "Jualan sudah lama, sarapan. Kalau sebelum di sini, usaha juga itu di Asparagus. Ada soto. Jualan soto, soto daging, soto ayam, soto mie, soto-sotoan. (Jualan sarapan) kurang lebih sudah 1 tahun," tutur Bude Sum saat berbincang di lokasi, Jl Hud II, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas Bude Sum tak berhenti dari pagi. Sebelum menggelar lapak jualan, Bude Sum berangkat ke pasar membeli bahan sore hari. Malam harinya, dia mengolah bahan-bahan tersebut menjadi masakan untuk sarapan pelanggannya.
"Sore ke pasar, tidur siang. Saya malam nggak bisa tidur, jadi kalau gak ngolah. Baru tidur jam 1, kadang setengah 2, ya serapinya. Tidur paling sejam," ujar Bude Sum.
Bude Sum berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus membantu suami yang juga bekerja. Bude Sum bersyukur jualannya ini menghasilkan keuntungan yang juga dipakai untuk membayar kontrakan Rp 1,5 juta per bulannya.
"Ya balik modal lah yang kita ini (jual). Malam itu (belanja), pagi balik modalnya. Ada dikit-dikit, alhamdulillah ada (untung)," tutur dia.
Tambah Modal Jualan
Seperti kebanyakan orang, Bude Sum juga merasakan dampak COVID-19 yang banyak mengubah hajat hidup manusia. Ketika masih berjualan soto dan COVID-19 melanda, pembelinya pun berkurang. Bude Sum sempat pulang kampung beberapa bulan ke Semarang sebelum kembali ke Ibu Kota.
"Pembelinya kan makin kurang juga kan, makan di tempat gini nggak boleh gitu. Kita bingung dagang. Cuma yang kenal-kenal doang telepon. Dari situ saya sempat pulang juga, saya di Semarang. Cuma berapa bulan doang di kampung," tutur dia.
Beberapa menu yang dijual di warung Bude Sum di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Foto: Gibran Maulana
Saat itu, sempat ada yang menawarinya untuk mengambil Kredit Usaha Rakyat atau KUR BRI namun COVID-19 mengurungkan niatnya. Dia baru mengambil KUR BRI untuk menambah modal berjualan sarapan.
"Buat nambahin modal, ngambil 15 (Rp 15 juta). Buat modal, jadi (menu yang dijual) banyakan, alhamdulillah kebantu," kata Bude Sum tersenyum.
Bude Sum berharap usahanya terus berjalan dan makin ramai. Lokasi rumahnya yang memang padat penduduk pun dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan menyajikan sarapan yang enak rasanya.
"Pas nasi uduk aja nih yang ini ya (ambil KUR BRI), intinya buat usaha kan itu minjem buat nambah ini, modal usaha gitu. Jadi, ya, biar kata dikit-dikit manjang lah," kata dia.
Dari usaha inilah Bude Sum menggantungkan harapan untuknya dan keluarga. "Pengennya makin rame, makin banyak pelanggan, usahanya biar ini lancar. Buat tambah-tambah," bebernya.
Wira, salah satu warga di sekitar lokasi, sudah menjadi pelanggan tetap sarapan Bude Sum. Pria lajang ini merasa terbantu dengan kehadiran warung sarapan Bude Sum karena tak perlu repot-repot memikirkan mau makan apa di pagi hari.
"Nasi uduknya enak, porsinya juga lumayan. Ya, hampir tiap hari beli kalo pulang ke rumah. Biasanya sih kebanyakan nginep (di tempat kerja). Suka kok sama nasi uduknya, apalagi gorengannya masih anget pagi-pagi," kata Wira.
Wira berharap usaha Bude Sum dan UMKM lain bisa berkembang. Menurutnya, program seperti KUR BRI sangat membantu ekonomi rakyat. "Ya bagus ya kalau begitu. Biar duit warga juga muter ya, lagian sarapan di sini emang enak-enak jualannya," kata dia.
KUR BRI Perkuat Permodalan UMKM
Dirut BRI Hery Gunardi menegaskan, lewat KUR, pihaknya ingin menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran serta berkelanjutan bagi pelaku usaha. BRI memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, kelompok tani, hingga penyuluh pertanian, guna memastikan penyaluran KUR memberikan dampak ekonomi yang nyata.
Pada periode Januari hingga Maret 2026, BRI berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah pinjaman. BRI menegaskan penyaluran KUR dilakukan secara prudent, transparan, dan akuntabel. Melalui langkah tersebut, BRI optimistis dapat terus berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani, serta pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan.
"Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun," ujar
"Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah," kata Hery Gunardi.
(gbr/gbr)

















































