Jakarta -
Kementerian Kebudayaan, Marandang Institute, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta, dan berbagai pihak lainnya membantu warga terdampak bencana di Sumatera dengan mendistribusikan 17.000 paket rendang siap saji.
Penyaluran paket rendang dikemas dalam acara acara 'Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera' yang diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok, Minggu (1/3).
'Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera' memadukan gastronomi dengan seni pertunjukan, mulai dari musik, puisi, hingga pameran etnografi, sebagai wujud ekspresi budaya yang menyatu dalam semangat solidaritas Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan pendekatan ini sebagai bentuk inovasi budaya yang menggabungkan unsur seni dan kepedulian sosial secara simultan. Dia menegaskan bahwa gastronomi atau pangan merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan.
"Rendang atau randang dalam penyebutan Minang adalah bagian dari kekayaan budaya kita yang luar biasa. Variannya sangat banyak, bahkan di Sumatera Barat saja terdapat puluhan jenis rendang di berbagai kabupaten dan kota. Inilah kekayaan megadiversity Indonesia, termasuk dalam kuliner," kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Fadli juga mengapresiasi peran berbagai tokoh dan pegiat kuliner dalam menginternasionalkan rendang sebagai ikon gastronomi Indonesia. Menurutnya, promosi kuliner Nusantara di panggung global merupakan wujud nyata pelaksanaan amanat konstitusi dalam memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa pemilihan rendang sebagai bantuan pangan memiliki nilai strategis. Selain berbasis pangan lokal, rendang memiliki daya tahan lama tanpa bahan pengawet dan dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu proses pemanasan tambahan, sehingga sangat relevan untuk situasi bencana dan masa rehabilitasi.
"Gotong royong adalah kunci. Kolaborasi lintas institusi seperti ini menunjukkan bahwa dengan semangat kebersamaan, kita dapat menghadirkan solusi nyata bagi saudara-saudara kita yang terdampak musibah," tuturnya.
Melalui 'Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera' Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan tidak hanya dimaknai sebagai pelestarian dan promosi, tetapi juga sebagai aksi nyata yang memberi dampak langsung bagi masyarakat. Dia menjelaskan inisiatif ini menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya, dalam hal ini gastronomi rendang dapat dihadirkan sebagai solusi kemanusiaan sekaligus diplomasi budaya yang memperkuat solidaritas nasional.
"Ke depan, kolaborasi lintas kementerian, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan masyarakat luas diharapkan terus tumbuh sebagai praktik gotong royong yang menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan pemersatu dan penggerak kepedulian bangsa," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Riset dan Inovasi Hamdi Muluk menyampaikan bahwa kegiatan ini merefleksikan falsafah Minangkabau 'Tungku Tigo Sajarangan' yang menekankan sinergi dan keseimbangan dalam kepemimpinan dan kehidupan bermasyarakat.
"Kegiatan diplomasi budaya melalui rendang bukan hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap saudara-saudara terdampak bencana. Ini adalah wujud kontribusi perguruan tinggi dan komunitas budaya bagi masyarakat," ujarnya.
Dia menambahkan selaras dengan visi UI 'Unggul dan Impactful untuk Indonesia' kegiatan ini menegaskan peran universitas tidak hanya dalam pendidikan dan riset, tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat serta pemajuan kebudayaan.
Dalam kesempatan yang sama, Chef Aidil Usman menyampaikan bahwa gerakan 'Rendang untuk Sumatera' kali ini menyiapkan 1,5 ton rendang. Untuk mendukung keberlanjutan gerakan tersebut, pihaknya telah menyiapkan 26 wajan, 26 kompor gas, dan 26 tungku sebagai investasi fasilitas produksi yang dijalankan dengan semangat gotong royong dan donasi masyarakat.
Menurutnya, rendang bukan sekadar hidangan, melainkan representasi nilai-nilai kebudayaan dalam perspektif gastronomi, mengandung kesabaran, intensitas kerja, kebersamaan, dan penghargaan yang tinggi.
'Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera' dihadiri oleh sejumlah tokoh Tanah Air antara lain Menteri Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak, Arifatul Choiri Fauzi; tokoh sekaligus budayawan Inayah Wahid; Chef Rendang 'Marandang Institut' Aidil Usman; Pakar Kuliner, William Wongso; serta para akademisi Universitas Indonesia.
Hadir pula mendampingi Fadli Zon di antaranya Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Protokol dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayudha; Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Irini Dewi Wanti; Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Yayuk Sri Budi Rahayu; Direktur Promosi Kebudayaan, Undri; Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Feri Arlius; dan Direktur Film, Musik, dan Seni, Syaifullah.
(prf/ega)


















































