Jakarta -
Gunungan sampah di kecamatan Tambora, Jakarta Barat, tak lagi bisa dianggap persoalan sepele. Keluhan warga yang terus bergulir di sosial media akhirnya memicu respons cepat Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, yang turun langsung meninjau kondisi di Kelurahan Jembatan Besi dan Kali Anyar guna memastikan penanganan segera dilakukan.
Dalam sidak tersebut, Kenneth turut didampingi oleh Lurah Jembatan Besi Achmad Subhan, Lurah Kalianyar Iman Suhendar, Camat Tambora Pangestu Aji, serta perwakilan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Dahlan. Kehadiran para pemangku wilayah ini mencerminkan sinergi dan koordinasi lintas sektor dalam menangani permasalahan yang dihadapi warga.
"Saya sering sekali menerima berbagai laporan dari warga yang merasa terganggu dengan kondisi penumpukan sampah, baik dari segi bau tidak sedap, meningkatnya populasi lalat dan tikus, maupun menurunnya kualitas hidup sehari-hari. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi instansi terkait," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai tindak lanjut, pria yang kerap disapa Bang Kent itu meminta kepada Satgas Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat bersama Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dari masing-masing kelurahan segera melakukan pembersihan secara menyeluruh. Upaya ini bertujuan untuk mengembalikan kondisi lingkungan menjadi bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.
"Permasalahan ini tidak bisa dianggap sepele, karena selain mengganggu estetika lingkungan, juga berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Saya mendesak kepada dinas terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, agar segera mengambil langkah konkret dan terukur. Penanganan tidak boleh hanya bersifat sementara atau reaktif, melainkan harus sistematis dan berkelanjutan. Mulai dari optimalisasi armada pengangkut sampah, penyesuaian jadwal pengangkutan yang lebih efektif, hingga peningkatan pengawasan di titik-titik rawan penumpukan," beber Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu.
Kata Kent, kegiatan ini akan menjadi wujud komitmen bersama antara DPRD DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, langkah cepat yang diambil juga menunjukkan bahwa setiap aduan warga dapat ditindaklanjuti secara responsif dan tepat sasaran.
"Perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di DKI Jakarta. Apakah terdapat kendala pada infrastruktur, kurangnya sumber daya, atau persoalan koordinasi antarinstansi. Semua ini harus dibuka secara transparan agar solusi yang diambil benar-benar tepat sasaran. Kemudian saya juga mendorong adanya pendekatan berbasis masyarakat, di mana warga dilibatkan secara aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Edukasi mengenai pemilahan sampah dari sumber, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta penguatan peran RT/RW dan komunitas lokal menjadi hal yang sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif," tutur Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas RI itu.
Di sisi lain, kata Kent, pemerintah DKI Jakarta juga perlu mempertimbangkan langkah-langkah inovatif ke depannya, seperti pengembangan bank sampah secara serius, pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah dan limbah, serta kerja sama dengan pihak swasta untuk meningkatkan efisiensi sistem yang ada.
"Saya akan terus mengawal persoalan ini secara serius, dan memastikan bahwa setiap keluhan warga mendapatkan respons yang cepat dan tepat. Saya tidak ingin masalah penumpukan sampah ini menjadi persoalan yang berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas. Harapan saya, dalam waktu dekat kondisi di Jembatan besi dan kali anyar, Jakarta Barat dapat segera tertangani dengan baik, sehingga masyarakat dapat kembali merasakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali," tuturnya.
Kent pun membeberkan cara penanganan sampah agar tidak menimbulkan berbagai dampak serius, mulai dari pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, hingga menurunnya kualitas hidup masyarakat. Diketahui, sampah sendiri merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia maupun proses alam yang berbentuk padat. Berdasarkan sifat dan sumbernya, sampah dibagi menjadi tiga jenis utama, yakni sampah organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun (B3).
Sampah organik merupakan jenis sampah yang mudah terurai secara alami, seperti sisa makanan, daun, dan limbah dapur. Sementara itu, sampah anorganik cenderung sulit terurai, contohnya plastik, kaca, kaleng, dan logam. Adapun sampah B3 mengandung zat berbahaya, seperti baterai bekas, lampu neon, hingga limbah elektronik, yang memerlukan penanganan khusus.
"Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan langkah penanganan yang sistematis dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah prinsip 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). Pengurangan sampah dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan barang sekali pakai serta memilih produk ramah lingkungan. Penggunaan kembali dilakukan dengan memanfaatkan barang yang masih layak pakai, sementara daur ulang bertujuan mengolah sampah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan ekonomi," bebernya.
Selain itu, sambung Kent, pemilahan sampah sejak dari sumber juga menjadi langkah penting agar proses pengelolaan lebih efektif. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
"Peran masyarakat sangat menentukan dalam keberhasilan pengelolaan sampah, terutama melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sadar lingkungan. Di sisi lain, pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menyediakan fasilitas, regulasi, serta edukasi yang mendukung pengelolaan sampah secara optimal. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, serta penerapan pengelolaan sampah yang berkelanjutan, diharapkan permasalahan sampah dapat ditekan secara signifikan demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan," tutur Kent.
Kent juga mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan dengan mencontoh praktik terbaik dari negara-negara lain, khususnya di kawasan Asia.
"Kita tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam menangani sampah dan pembuangan sampah ke TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantar Gebang juga sudah bukan solusi karena sudah over kapasitas. Oleh karena itu permasalahan sampah ini harus ditangani secara serius, mulai dari hulu hingga hilir, dengan sistem yang jelas, teknologi yang memadai, serta keterlibatan aktif masyarakat," ujarnya.
Kepala BAGUNA (Badan Penanggulangan Bencana) DPD PDI Perjuangan Jakarta itu mencontohkan keberhasilan Singapura dalam menjaga kebersihan kota melalui penegakan hukum yang tegas dan sistem pengelolaan sampah yang efisien. Selain itu, Korea Selatan dinilai berhasil melalui kebijakan pay as you throw, yang mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
"Di Singapura, aturan ditegakkan dengan disiplin tinggi sehingga masyarakat patuh. Sementara di Korea Selatan, masyarakat didorong untuk mengurangi sampah karena ada konsekuensi biaya. Ini adalah contoh konkret bagaimana kebijakan bisa mengubah perilaku," jelasnya.
Lebih lanjut, Kent juga menyinggung kedisiplinan masyarakat di Jepang dalam memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, edukasi yang konsisten dan budaya tertib menjadi kunci keberhasilan negara tersebut dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Pemilahan sampah dari sumber itu sangat penting. Jika sejak awal sudah terpisah dengan baik, maka proses pengolahan di hilir akan jauh lebih mudah dan efisien," katanya.
Ia menegaskan, bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu mengadopsi pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari peningkatan fasilitas pengolahan, optimalisasi pengangkutan, hingga penguatan regulasi dan pengawasan di lapangan.
Selain itu, Kent juga mendorong adanya inovasi dalam pengelolaan sampah, seperti pengembangan bank sampah, pemanfaatan teknologi digital, serta kerja sama dengan sektor swasta dalam mendukung sistem yang lebih efektif.
"Kita sudah harus berani bertransformasi. Pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di masa depan," tegasnya.
Ia menambahkan, Bahwa dia akan terus mengawal kebijakan terkait pengelolaan sampah agar dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Dengan komitmen bersama antara pemerintah DKI Jakarta dan masyarakat, saya yakin Jakarta bisa menjadi kota yang bersih, sehat, dan setara dengan kota-kota maju di dunia," tutupnya.
(ega/akn)
















































