Jakarta - Menteri Kebudayaan RI (Menbud), Fadli Zon hadiri Penghargaan Pradana Nitya Budaya TMII 2026 yang berlangsung di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Diselenggarakan untuk kedua kalinya sejak tahun 2025, penghargaan ini merupakan wujud apresiasi dari Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) bersama dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kepada anjungan daerah sebagai garda terdepan dalam melestarikan kebudayaan Indonesia.
Mengawali sambutannya, Fadli Zon mengungkapkan bahwa Pradana Nitya Budaya TMII Awards merupakan apresiasi bagi anjungan daerah di TMII yang unggul dalam pengelolaan, pelestarian budaya, dan pelayanan pengunjung.
"Penghargaan ini mendorong inovasi, mengukur kinerja serta efisiensi, sekaligus mengapresiasi peran pemerintah daerah dalam menjaga budaya Nusantara, sekaligus mengapresiasi peran pemerintah daerah dalam menjaga budaya Nusantara," ujar Fadli Zon dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).
Lebih jauh, Fadli Zon sampaikan bahwa Kemenbud terus mendukung pengembangan anjungan daerah yang berada di TMII, sekaligus mendorong keterlibatan pemerintah provinsi untuk terlibat dalam pengelolaan anjungan daerah.
Menurut Fadli Zon, anjungan daerah merupakan cerminan dari khazanah kearifan lokal Indonesia yang memerlukan perawatan dan pengelolaan secara menyeluruh.
"Peran pemerintah daerah dalam memelihara anjungan tentu sangat penting, karena anjungan merupakan etalase dari tiap provinsi di Indonesia. Kementerian Kebudayaan mendukung dan mendorong revitalisasi dari anjungan-anjungan daerah tersebut," lanjut Fadli Zon.
Fadli Zon turut menekankan bahwa kebudayan kini menjadi soft power yang menjadi motor penggerak cultural economy dan cultural industry di berbagai negara lewat berbagai aktivasi kreatif, seraya mendorong TMII untuk terus mengedepankan kebudayaan sebagai fondasi utama dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan, inovatif, dan relevan lintas generasi.
Mengakhiri sambutan, Fadli Zon berharap bahwa penghargaan Pradana Nitya Budaya tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, melainkan pendorong utama ekosistem budaya di daerah.
"Melalui penghargaan ini, Kementerian Kebudayaan terus mendorong setiap anjungan menghadirkan program yang orisinal dan berangkat dari kekuatan budaya masing-masing daerah. Karena ketika budaya dijaga, maka identitas bangsa akan kuat. Ketika budaya dihargai, maka masa depan akan punya akar," tutupnya.
Meneguhkan pernyataan Fadli Zon, Febrina Intan selaku Direktur Utama InJourney Destination Management menerangkan bahwa anjungan yang ada di Taman Mini Indonesia Indah merupakan representasi fisik dari kekayaan budaya Indonesia.
"Peran anjungan daerah amatlah penting, karena anjungan menjadi jendela keragaman budaya Indonesia melalui kisah-kisah dari masing-masing daerah," ungkap Febrina.
Sebagai informasi, pada tahun ini, selain penghargaan umum 'Anjungan Daerah Terbaik', Pradana Nitya Budaya TMII mengusung tiga kategori istimewa tambahan, yakni 'Anjungan dengan Tata Pamer Terbaik', 'Anjungan dengan Hospitality Terbaik' serta 'Anjungan dengan Resiliensi Terbaik'.
Lebih lanjut, kategori 'Anjungan dengan Tata Pamer Terbaik' diraih oleh Sumatera Selatan; kategori 'Anjungan dengan Hospitality Terbaik' diraih oleh Sulawesi Barat; serta kategori 'Anjungan dengan Resiliensi Terbaik' diraih oleh Jawa Timur. Dilanjutkan dengan penghargaan umum 'Anjungan Daerah Terbaik' yang diberikan kepada Jawa Tengah sebagai juara 3; Bali sebagai juara 2; dan Kalimantan Selatan sebagai juara 1.
Hadir pula dalam kesempatan ini, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana; Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati; Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Sosial, Mayor Jenderal TNI Rionardo; Direktur Utama InJourney Destination Management; Febrina Intan beserta jajaran; Plt. Direktur Utama TMII, Ratri Paramita; jajaran direksi BUMN; seta jajaran Gubernur dan pemangku pemerintahan di seluruh provinsi di Indonesia; budayawan, seniman, dan tokoh adat. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, di antaranya Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati; Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana; serta Direktur Pengembangan Budaya Digital, Insan Abdirrohman. (akd/ega)


















































