Kebangkitan Petani dan Produsen Kopi Perempuan: Cerita dari Banjarnegara

3 hours ago 1

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Perempuan dalam Pusaran Industri Kopi
Selama ini, dunia kopi kerap dilekatkan dengan citra maskulin: petani laki-laki, produsen laki-laki, barista laki-laki, hingga pengambil keputusan dalam rantai usaha kopi. Namun, di balik aroma dan cita rasa kopi yang dinikmati banyak orang, ada peran perempuan yang kerap luput dari sorotan. Di banyak desa penghasil kopi, perempuan justru menjadi penggerak utama-mulai dari perawatan tanaman, proses pascapanen, hingga pengolahan biji kopi.

Industri kopi kerap dicap maskulin karena laki-laki mendominasi tugas berat seperti persiapan lahan hingga penyimpanan, serta mengontrol harga dan transaksi. Konsumsi kopi juga lebih sering dikaitkan dengan laki-laki, meski tren ini mulai bergeser (Pangestu, Magdalene, 2018).

Padahal, perempuan justru lebih dominan dalam aktivitas harian seperti penanaman, pemetikan, dan pengolahan kopi, terutama di Indonesia seperti Sumatera Utara di mana 80% kebun melibatkan mereka sebagai aktor kunci. Meski begitu, akses mereka ke keputusan dan sumber daya masih terbatas (Ilmi, Purbowo, Sukma, 2023).

Industri kopi memang sering didominasi oleh laki-laki, terutama dalam pengambilan keputusan, pemasaran, dan peran kepemimpinan. Namun, perempuan memainkan peran krusial di tingkat produksi, dengan data menunjukkan lebih dari 70% buruh kopi global adalah perempuan, serta 20%-30% kebun kopi dikelola oleh mereka (Gracia, Magdalane, 2021).

Berdasarkan data Lota Bertulfo dalam "The Conference Board of Canada" terkait peranan gender di industri kopi, sebagian besar tugas dalam produksi kopi masih dilakukan oleh petani laki-laki. Jika diperinci, kelompok ini mengerjakan sembilan rangkaian kerja, dari persiapan lahan, pembenihan, hingga penyimpanan.

Sementara, tugas petani perempuan terbagi menjadi lima bagian, dari penanaman hingga pemilihan. Dari pembagian itu saja sudah tampak ada perbedaan peran, di mana laki-laki lebih difokuskan untuk mengurus lahan (Gracia, Magdalane, 2021).

Riset juga membuktikan bahwa perempuan lebih dominan dalam aktivitas produktif (sekitar 65% dari total kegiatan rumah tangga petani kopi) dibandingkan laki-laki, termasuk penanaman, pemetikan, dan pengolahan pasca-panen, selain tugas rumah tangga. Mereka disebut "Ibu Kopi" karena kontribusi signifikan ini, meski sering terbatas pada peran pendukung (Ilmi, Purbowo, Sukma, 2023).

Pengalaman Lady Farmer Coffee Banjarnegara
Lady Farmer Coffee di Karangkobar, Banjarnegara, adalah kelompok petani kopi perempuan yang didirikan pada 2015 oleh Farida Dwi Ermawati (Wiwik) untuk memberdayakan perempuan yang awalnya hanya buruh petik kopi dengan upah rendah Rp1.000/kg ceri kopi.

Mereka belajar otodidak dari Banyuwangi hingga Bali, mengolah kopi dari ceri mentah menjadi green bean, roasted beans, dan bubuk kemasan, serta memasarkannya ke kedai, perusahaan, dan platform digital hingga tonase besar (Sudjana, amanindonesia.org, 2025).

Wiwik mengajak perempuan lokal menanam dan mengelola kebun sendiri, menerapkan pupuk organik tanpa pestisida, dan memasang panel surya untuk pengeringan agar mandiri dari cuaca. Kelompok kini beranggotakan 20-40 orang, fokus pemasaran, kualitas, dan kolaborasi untuk saingan kompetitif (Sudjana, amanindonesia.org, 2025).

Pada awal budi daya Wiwik memiliki 2.000 pohon kopi yang mulai dipelihara secara serius. Tahun 2019, misalnya, menjadi masa di mana petani kopi perempuan sudah cukup belajar bagaimana budi daya secara baik. Ada faktor lain yang menunjang hasil panen kopi bagus, yakni pemanfaatan pupuk kandang dan bukan pupuk pabrikan, apalagi dia juga tidak menggunakan pestisida.

Hasilnya benar-benar sesuai harapan. Karena begitu banyak hasil kopinya, rumah itu sampai penuh dengan kopi arabika. Tentu saja petani kopi memasang harapan tinggi di tahun berikutnya. Namun, fakta berkata lain. Tahun 2021 itu cuaca tidak dapat diprediksi lagi. Bahkan, sepanjang tahun ada hujan (greenpeace.org, 2023).

Wiwik, pendiri Lady Farmer Coffee Banjarnegara di menekankan pentingnya peningkatan produktivitas dan kualitas kopi sejak tahap budidaya. Ia menyoroti praktik yang masih sering terjadi di lapangan, seperti pemetikan biji kopi yang belum matang sempurna dan minimnya perhatian terhadap nutrisi tanaman hingga perlunya atensi dalam penggunaan pupuk.

Ia menyampaikan analogi sebagai berikut: "Tanaman kopi itu seperti tubuh seorang ibu yang sedang mengandung. Biji kopi adalah 'janin' yang hidup dari nutrisi pohonnya. Kalau nutrisinya kurang, hasilnya juga tidak akan maksimal (Ermawati, 2026).

Untuk penguatan dan pengembangan industri kopi perempuan di Banjarnegara ini, Lady Farmer Coffee antara lain bekerjasama dengan Klaster Riset Hukum Kesejahteraan Sosial Fakultas Hukum Universitas Indonesia pimpinan Prof. Heru Susetyo, PhD yang antara lain ikut memfasilitasi penguatan legalitas, pemasaran digital dan pemahaman hak-hak atas tanah di sekitar perkebunan kopi pada awal tahun 2026.

Melalui Banjarnegara Women's Coffee Center, semangat "Perempuan Berdaya, Desa Berjaya" tidak berhenti sebagai slogan. Ia diwujudkan dalam langkah konkret penguatan kapasitas, kesadaran hukum, dan transformasi usaha kopi berbasis komunitas.

Ke depan, diharapkan ekosistem kopi desa yang produktif dan adil dapat terus tumbuh, dengan petani kopi perempuan sebagai aktor utama pembangunan ekonomi lokal. Karena dunia kopi bukanlah semata-mata dunia laki-laki.

Intervensi untuk Perempuan Pelaku Usaha Kopi
Intervensi sangat diperlukan untuk pengembangan petani dan industri kopi perempuan di Indonesia, baik dari pemerintah, dunia usaha, maupun Masyarakat umum. Karena meski berkontribusi 70% tenaga kerja dan mengelola 20-30% kebun kopi di Indonesia, akses Perempuan ke pelatihan, pendanaan, dan keputusan masih minim. Hal ini menghambat produktivitas, kesejahteraan keluarga, dan daya saing kopi nasional.

Perempuan sering terjebak pada pekerjaan fisik seperti pemetikan dan pengolahan pasca-panen, sementara laki-laki mendominasi pemasaran dan manajemen, menyebabkan ketidakadilan gender. Krisis iklim memperburuk situasi dengan menurunkan panen hingga 90%, memaksa diversifikasi tanpa dukungan memadai (news.unimal.ac.id, 17/09/2024).

Pemerintah Indonesia dapat menerapkan berbagai strategi kebijakan untuk mendukung petani kopi perempuan, meski masih perlu penguatan khusus gender agar lebih inklusif. Fokus utama mencakup pelatihan, akses finansial, dan infrastruktur yang meningkatkan peran mereka dalam rantai nilai kopi (careindonesia.or.id, 18/03/2026).

Pemerintah daerah dapat melakukan intervensi dalam bentuk menyalurkan bibit kopi, pupuk subsidi, alat pertanian serta CSR swasta untuk penyerapan panen dan branding. Kebijakan nasional 2024-2026 menargetkan peningkatan produktivitas dan daya saing kopi, dengan penekanan pada inklusi gender untuk kesejahteraan petani (Putra, Widianto & Ismail, 2025).

Kemudian, Program Kelompok Wanita Tani (KWT) dari dinas pertanian daerah dapat menyediakan pelatihan pengelolaan kopi, sementara UPT Kementan fokus hilirisasi melalui peremajaan tanaman, pasca-panen, dan bantuan alsintan untuk wanita penggerak (Fadel, Bakti, Septiani, 2023).

Apapun intervensi yang dilakukan, intinya perhatian, pengembangan, dan program-program pendampingan petani dan produsen kopi perempuan yang bersifat inklusif harus dilakukan. Karena, perempuan adalah bagian tak terpisahkan dan merupakan aktor penting dalam rantai pasok industri kopi di Indonesia.


(miq/miq)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |