Jangan Panik! Bos BI Beberkan 'Jurus Jitu' Agar Tak Jadi Korban Scam

53 minutes ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengingatkan masyarakat untuk semakin waspada terhadap berbagai modus penipuan digital atau scam yang marak terjadi seiring pesatnya perkembangan transaksi keuangan digital.

Menurut Filianingsih, pelaku kejahatan siber saat ini tidak selalu mengandalkan kemampuan meretas sistem (hacker), melainkan memanfaatkan teknik social engineering atau manipulasi psikologis untuk mengelabui korban.

"Nah, ini social engineering, ilmu menipu zaman now. Mereka nggak perlu hacker, tetapi cukup memahami psikologi," kata Filianingsih dalam Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).

Ia menjelaskan salah satu modus yang kerap digunakan adalah menghubungi calon korban melalui pesan WhatsApp atau telepon dengan mengatasnamakan bank maupun platform e-commerce. Pelaku biasanya menginformasikan adanya transaksi mencurigakan sehingga membuat korban panik.

Dalam kondisi panik tersebut, korban kemudian diminta memberikan informasi sensitif seperti PIN, nomor rekening, hingga kode OTP (one time password).

"Nah kita panik kan, wah ini kita jangan-jangan kita di-hack ini apa. Lalu mereka menanyakan 'untuk itu bisa dibantu tolong diberikan PIN-nya, tolong diberikan nomor tabungan dan lain-lain'. Dan kita akan panik ya," ujarnya.

Filianingsih mengatakan berbagai modus penipuan yang banyak ditemukan saat ini antara lain penggunaan call center palsu, pencurian kode OTP, rekening fiktif, hingga tautan donasi palsu.

Karena itu, BI terus mengampanyekan pentingnya kewaspadaan konsumen melalui slogan "Kalau Ragu, Stop Dulu".

Menurutnya, terdapat tiga langkah utama yang harus dilakukan masyarakat untuk menghindari menjadi korban penipuan digital.

Pertama, memeriksa identitas pihak yang menghubungi. Masyarakat diminta memastikan apakah nomor tersebut benar-benar berasal dari lembaga resmi atau justru nomor baru yang mencurigakan.

"Kadang dia menggunakan logonya kalau WA ya dia menggunakan logo bank tertentu, tetapi kita tahu biasanya bank tidak menggunakan nomor-nomor WA biasa ya," kata Filianingsih.

Kedua, memastikan informasi melalui kanal resmi. Ia mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai tautan maupun nomor telepon yang dikirimkan melalui pesan singkat.

"Jangan percaya pada link atau nomor dari chat. Cari di aplikasi bank kita biasanya pakai apa," ujarnya.

Ketiga, menjaga kerahasiaan data pribadi dan kode keamanan. Filianingsih menegaskan kode OTP, PIN, maupun kata sandi tidak boleh dibagikan kepada siapa pun.

"Dan jaga kode, jangan pernah kasih kode OTP, PIN, password rahasia, tidak boleh dibagi. Ke pacar pun nggak boleh dibagi ya," tegasnya.

Selain itu, Filianingsih menyarankan masyarakat untuk tidak terburu-buru merespons pesan atau panggilan yang mencurigakan. Ia menyarankan memberi jeda sekitar 10 menit untuk memverifikasi informasi sebelum mengambil tindakan.

"Jangan buru-buru bereaksi, tunggu 10 menit untuk bereaksi, cek ketiga hal tadi," katanya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |