Ironi Piala Dunia 2026: Panggung Megah untuk Sponsor Sakit-sakitan

1 hour ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

19 June 2026 15:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Uang kerap disebut telah merusak esensi sepak bola. Penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat pada saat ini, negara pencetak banyak pebisnis namun minim pesepak bola andal, awalnya diproyeksikan sebagai simbol kemenangan kapitalisme atas olahraga.

Harga tiket melonjak drastis, dan turnamen ini terasa menyerupai konferensi teknologi dengan kehadiran inovasi baru seperti "kembaran digital" untuk para pemain. Namun, di balik kemegahan tersebut, bisnis yang mengelilingi Piala Dunia sebenarnya tengah berjuang keras.

Perusahaan ritel, stasiun televisi, produsen bir, dan perusahaan taruhan kini tampak menua dan rentan. Bagi beberapa korporasi, ini mungkin menjadi turnamen terakhir mereka.

Pemandangan umum di dalam stadion menjelang pertandingan Grup A FIFA World Cup 2026 antara Mexico national football team dan South Africa national football team di Estadio Azteca, Kamis (11/6/2026). (REUTERS/Eloisa Sanchez)Pemandangan umum di dalam stadion menjelang pertandingan Grup A FIFA World Cup 2026 antara Mexico national football team dan South Africa national football team di Estadio Azteca, Kamis (11/6/2026). (REUTERS/Eloisa Sanchez)

Raksasa Apparel yang Kehilangan Pamor

Kemunduran perusahaan-perusahaan ini paling terlihat di lapangan. Di dada kanan pemain, tersemat logo merek olahraga yang tengah goyah. Nike mensponsori 12 dari 48 tim, tertinggal dari Adidas (14 tim) dan sedikit di atas Puma (11 tim).

Valuasi ketiga raksasa pembuat perlengkapan olahraga ini lebih rendah dibandingkan pada final 2018. Saham Nike bahkan anjlok 75% dari titik puncaknya pada 2021, tertekan oleh persaingan merek baru seperti On dan Asics.

Para analis menilai penurunan industri ini didorong oleh kurangnya inovasi produk. Bola "Trionda" dari Adidas dinilai kurang berkesan, dan desain sepatu tahun ini didominasi warna merah muda yang seragam. Lebih jauh, inovasi baju "Aero-FIT" dari Nike justru sering kali berpotongan kurang pas, dengan jahitan bahu yang menonjol secara tidak wajar.

Komersialisasi Jeda dan Kemerosotan Televisi Linier

Atas arahan FIFA, pertandingan kini terbagi menjadi empat kuarter. Pihak penyelenggara berdalih bahwa "Powerade Hydration Breaks" ini diperlukan karena cuaca panas. Namun, penggemar menilai ini hanyalah ruang tambahan untuk menyisipkan iklan televisi.

Meski mendapat slot iklan ekstra, stasiun televisi linier sedang tidak dalam kondisi prima. Fox, pemegang hak siar di Amerika Serikat, melihat sahamnya tersendat meski padat dengan penayangan iklan.

Sejak penayangan perdananya, harga saham FOX harus terdepresiasi secara esktrim, FOXA.O terpaksa harus turun sebesar 24,86% sejak penutupan Kamis (11/6/2026) dari level 68,30 ke 51,32 pada penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026).

Kondisi serupa dialami saluran televisi lain seperti M6 di Prancis, ITV di Inggris, dan Telemundo di Amerika, yang masa kejayaan sahamnya telah berlalu bertahun-tahun silam.

Tantangan Baru Industri Minuman Keras

Dengan peningkatan jumlah pertandingan menjadi 104 laga, konsumsi bir seharusnya meningkat. Namun, tren penurunan konsumsi alkohol di kalangan anak muda menjadi masalah utama industri ini.

Gaya hidup sehat semakin mendominasi, termasuk pada tim nasional Inggris yang dulunya identik dengan budaya minum. Para pemain kini lebih memilih perangkat pelacak kesehatan seperti Whoop atau cincin pintar Oura yang diiklankan oleh kapten tim, Harry Kane.

Produsen bir terbesar di dunia hanya memproyeksikan peningkatan volume penjualan sebesar 0,2% hingga 0,3% dari turnamen ini. Penjualan akhir sangat bergantung pada sejauh mana tim-tim tertentu melaju di kompetisi, di mana eliminasi tak terduga dapat memicu penumpukan stok berskala masif.

Masa Depan Bisnis Olahraga: Streaming dan Pasar Prediksi

Logika serupa berlaku bagi industri perjudian. Meskipun raksasa industri seperti Flutter dan DraftKings memproyeksikan perputaran uang hingga US$2,4 miliar di Amerika Serikat, nilai saham mereka tetap mengalami penurunan signifikan tahun ini. Perusahaan-perusahaan ini kini menghadapi ancaman langsung dari platform pasar prediksi.

KalshiEX LLCKalshiEX LLC

Mengamati transisi bisnis di Piala Dunia saat ini lebih mudah daripada memprediksi siapa yang akan memegang kendali di masa depan. Namun, platform pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket, serta raksasa layanan streaming seperti Netflix dan Amazon, dinilai memiliki peluang kuat untuk menggantikan pemain lama.

Pada akhirnya, kesenjangan antara besarnya skala turnamen dan menurunnya relevansi televisi linier akan semakin nyata. Satu hal yang tetap konsisten: siapa pun korporat yang terlibat, hak monopoli pengelola tetap sepenuhnya berada di tangan FIFA.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |