Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengandalkan chatbot kecerdasan buatan (AI) Grok milik perusahaan xAI yang didirikan Elon Musk dalam operasi militer terhadap Iran. Pengakuan tersebut muncul dalam dokumen resmi pengadilan yang diajukan pejabat tinggi Pentagon.
Kepala Digital dan Kecerdasan Buatan Pentagon, Cameron Stanley, menyatakan operasional Grok merupakan masalah keamanan nasional yang sangat penting.
Dalam pernyataan tertulis di bawah sumpah, Stanley mengungkapkan teknologi tersebut digunakan dalam operasi yang menembakkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 target berbeda hanya dalam waktu 96 jam.
Grok merupakan chatbot AI generatif yang dikembangkan oleh x.ai. Menurut Stanley, Grok termasuk satu dari empat model AI yang saat ini mampu mendukung aplikasi keamanan nasional AS.
Tak hanya itu, Grok juga menjadi satu dari tiga produk AI yang dinilai mampu mendukung operasi-operasi penting dalam lingkungan rahasia tingkat tinggi atau top secret, demikian dikutip CNBC Indonesia dari The Independent, Jumat (19/6/2026).
Dokumen tersebut menjadi pengakuan eksplisit pertama dari pejabat pemerintahan AS bahwa pemerintah menggunakan AI milik Musk dalam operasi pengeboman di Iran.
Pengakuan ini muncul ketika penggunaan AI dalam perang semakin mendapat sorotan setelah serangan yang dipimpin AS disebut menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak.
Penyelidik militer AS meyakini pasukan Amerika kemungkinan bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di kota Minab yang menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar anak-anak.
Sejumlah analis dan kelompok hak asasi manusia menyebut insiden itu sebagai salah satu tragedi sipil paling mematikan sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada Februari lalu.
Sejumlah pengamat menilai sistem penentuan target berbasis AI yang digunakan Pentagon, ditambah kesalahan manusia dalam memverifikasi pembaruan peta target, kemungkinan ikut berperan dalam serangan tersebut.
Dalam operasi yang diberi nama Operation Epic Fury, target-target serangan diidentifikasi dengan bantuan sistem Maven Smart System milik National Geospatial-Intelligence Agency.
Sistem Maven menggunakan AI untuk menyusun dan menampilkan data dalam sebuah dashboard guna membantu pejabat militer mengambil keputusan.
Namun, produk-produk AI tersebut tidak secara langsung menciptakan target serangan, melainkan membantu mengidentifikasi titik-titik yang dianggap menarik bagi intelijen militer.
Dalam dokumen pengadilan yang diajukan pada Senin, Pentagon juga mengungkapkan bahwa mereka menggunakan Grok Gov Model, rangkaian produk AI xAI yang dirancang khusus untuk lembaga pemerintah. Stanley menyebut produk itu memiliki fitur-fitur yang tidak ditemukan pada model AI terdepan lainnya.
Meski mengandalkan sejumlah sistem AI dalam operasi rudal terhadap Iran, Departemen Pertahanan AS juga masih menghadapi sengketa hukum lain terkait penggunaan teknologi AI berbeda yang dipakai dalam perang.
(dem/dem)
Addsource on Google

















































