Iran Ancam ke Negara Arab Teluk, Beri Ultimatum Keras Bila Lakukan Ini

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Angkatan Bersenjata Iran melontarkan ancaman mematikan kepada negara-negara Teluk agar tidak memberikan bantuan maupun fasilitas apa pun kepada militer Amerika Serikat (AS). Peringatan keras ini meledak sebagai peringatan awal di tengah memanasnya konflik bersenjata dan perputaran armada militer AS di kawasan tersebut.

Mengutip Bangkok Post, Rabu (19/08/2026), Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, secara terbuka meragukan janji negara-negara Timur Tengah yang sebelumnya mengklaim tidak akan membiarkan AS menggunakan wilayah mereka sebagai landasan peluncuran serangan militer. Mengingat kawasan Teluk saat ini dipenuhi oleh instalasi militer Washington, Ali memperingatkan seluruh negara tetangganya.

"Setiap bantuan atau fasilitasi yang diberikan kepada militer AS yang agresor sama dengan partisipasi dalam operasi militer AS," tegasnya.

"Tampaknya tidak mungkin sejumlah besar pesawat militer, khususnya pesawat pengisian bahan bakar, dapat hadir di pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tuan rumah. Mereka harus tahu bahwa kami sepenuhnya menyadari situasi ini," tuturnya.

Sebagai latar belakang, konflik mematikan ini pecah pada 28 Februari lalu usai serangan gabungan AS-Israel terhadap Republik Islam tersebut, yang langsung dibalas oleh Teheran dengan rentetan serangan rudal dan drone melintasi kawasan. Sejumlah media sempat melaporkan bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain semuanya ikut menyerang target di Iran sebagai bentuk balasan, meskipun negara-negara itu sebagian besar telah membantahnya.

Situasi kian mendidih setelah UEA pada hari Selasa secara resmi mengumumkan penangguhan seluruh urusan ekonominya dengan Iran. Langkah drastis ini diambil hanya beberapa jam sebelum Iran melontarkan ancamannya, menyusul insiden di mana Abu Dhabi menuduh Teheran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah armada komersial yang berlayar di lepas pantainya.

Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA, Afra Al Hameli, membenarkan keputusan drastis terkait pemutusan hubungan negara tersebut.

"Mengingat eskalasi regional, semua perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran telah dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut," ucapnya.

Padahal, kedua tetangga Teluk ini sejatinya memiliki ikatan budaya dan sejarah yang mendalam, di mana UEA yang menampung banyak komunitas Iran sempat menjadi mitra dagang utamanya. Namun, UEA kini telah menarik duta besarnya di awal konflik serta menutup sekolah dan sebuah rumah sakit yang terkait dengan Iran.

Kapal tanker milik perusahaan minyak negara UEA, Adnoc, juga telah berulang kali menjadi sasaran serangan dalam beberapa minggu terakhir, yang membuat diplomat tinggi AS Marco Rubio langsung menelepon penasihat keamanan nasional UEA pada hari Selasa untuk membahas koordinasi perlawanan terhadap Iran dan proksinya guna mengamankan Selat Hormuz.

Di ranah diplomatik, kerangka kesepakatan AS-Iran yang ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz kini dilaporkan telah runtuh sepenuhnya. Walau utusan AS Jared Kushner sempat mengklaim adanya pembicaraan yang sangat positif pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump dengan cepat membantahnya. Trump secara provokatif justru mengejek Iran melalui unggahan media sosial yang menggambarkan selat strategis tersebut sebagai "Wilayah Baru AS".

"Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, atau dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap berlaku penuh dan efektif," ungkapnya.

Di lapangan, militer AS sebagian besar telah menghentikan sementara operasinya. Media AS melaporkan bahwa perang telah menguras persediaan amunisi penting mereka, meski hal ini langsung dibantah keras oleh Trump dan Pentagon.

Dengan kegagalan AS untuk mengakhiri konflik secara meyakinkan selama berbulan-bulan, para pejabat Iran kini tampil semakin menantang. Ketua Parlemen sekaligus Negosiator Utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, baru-baru ini mengunjungi Irak untuk memperkuat tatanan baru di kawasan dan meningkatkan kerja sama tanpa campur tangan asing.

"Perlawanan di Irak juga merupakan salah satu elemen kekuatan negara ini," pungkasnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |