Intelijen Sekutu AS Tak Yakin dengan Trump, Perang Ini Sulit Diakhiri

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Para kepala intelijen Eropa menyatakan pesimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina pada tahun ini. Penilaian ini berbanding terbalik dengan klaim Donald Trump yang menyebutkan bahwa pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) telah membawa prospek perdamaian menjadi "cukup dekat".

Kepala dari lima badan intelijen Eropa mengungkapkan kepada Reuters bahwa Rusia sebenarnya tidak berniat mengakhiri perang dengan cepat. Empat di antaranya menyebut Moskow hanya memanfaatkan negosiasi dengan AS untuk mendorong pencabutan sanksi serta kesepakatan bisnis bilateral.

Salah satu kepala intelijen Eropa menegaskan bahwa rangkaian pembicaraan yang terakhir kali digelar di Jenewa pekan ini hanyalah sebuah drama di meja perundingan.

"Pembicaraan tersebut adalah teater negosiasi," ujar salah satu kepala intelijen Eropa dikutip Jumat (20/2/2026).

Pernyataan para petinggi mata-mata ini menunjukkan adanya jurang perbedaan pemikiran yang mencolok antara ibu kota negara-negara Eropa dengan Gedung Putih. Pihak Ukraina menyebut AS ingin mencapai kesepakatan damai pada Juni mendatang, sebelum pemilihan umum sela Kongres AS pada November. Di sisi lain, Trump meyakini Presiden Rusia Vladimir Putin benar-benar ingin membuat kesepakatan.

Namun, intelijen Eropa menilai Rusia tetap teguh pada tujuan strategis awal mereka yang melibatkan penggulingan pemerintahan di Kyiv.

"Rusia tidak sedang mencari perjanjian damai. Mereka sedang mengejar tujuan strategis mereka, dan tujuan itu belum berubah," kata kepala intelijen lainnya.

Tujuan strategis yang dimaksud mencakup penyingkiran pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky dan memastikan Ukraina menjadi zona penyangga yang "netral" terhadap Barat. Kepala intelijen kedua menambahkan bahwa saat ini Rusia tidak memiliki urgensi untuk berdamai karena kondisi ekonominya belum berada di titik kehancuran.

"Masalah utamanya adalah Rusia tidak menginginkan atau membutuhkan perdamaian yang cepat, dan ekonominya tidak berada di ambang kehancuran," tambah kepala intelijen itu.

Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut. Namun, Putin sebelumnya menyatakan siap untuk berdamai asalkan sesuai dengan persyaratannya, sementara pejabat Rusia seringkali menuding pemerintah Eropa salah dalam memberikan penilaian terhadap Moskow.

Di medan diplomasi, negosiator Ukraina dan Rusia telah bertemu untuk ketiga kalinya pada tahun 2026 ini tanpa menghasilkan terobosan pada poin-poin krusial, termasuk masalah wilayah. Zelensky sendiri tampak frustrasi dengan lambatnya kemajuan dan menuduh Rusia hanya membuang-buang waktu dengan membahas sejarah konflik.

"Saya tidak butuh omong kosong sejarah untuk mengakhiri perang ini dan beralih ke diplomasi. Karena itu hanyalah taktik penundaan," tulis Zelensky melalui akun X miliknya pada Kamis.

Perselisihan wilayah tetap menjadi ganjalan utama di mana Moskow menuntut Kyiv menarik pasukannya dari sisa 20% wilayah Donetsk timur yang belum dikuasai Rusia. Intelijen Eropa memperingatkan bahwa pemberian konsesi wilayah oleh Ukraina tidak akan secara otomatis mengakhiri ambisi Rusia untuk menggulingkan pemerintah yang pro-Barat.

"Dalam hal Rusia mendapatkan konsesi ini, saya pikir ini mungkin hanyalah awal dari negosiasi yang sebenarnya," papar kepala intelijen ketiga.

Pihak intelijen juga menyoroti kurangnya keahlian diplomatik dalam tim negosiasi AS yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner. Keduanya merupakan sekutu dekat Trump namun tidak memiliki latar belakang diplomatik formal atau keahlian khusus terkait Rusia dan Ukraina.

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly membela langkah yang diambil oleh pemerintahan Trump dalam mengupayakan perdamaian.

"Presiden Trump dan timnya telah berbuat lebih banyak daripada siapa pun untuk mempertemukan kedua belah pihak guna menghentikan pembunuhan dan memberikan kesepakatan damai," tegas Anna Kelly.

Selain masalah perang, Moskow dilaporkan mencoba memisahkan jalur pembicaraan menjadi dua fokus, yakni terkait konflik dan terkait kerja sama ekonomi bilateral dengan AS senilai triliunan dolar. Zelensky menyebut intelijennya melaporkan adanya pembahasan kesepakatan senilai US$ 12 triliun (Rp 201.600 triliun), sementara utusan Rusia Kirill Dmitriev menyebut potensi portofolio proyek AS-Rusia bisa mencapai lebih dari US$ 14 triliun (Rp235.200 triliun).

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |