Mengapa Banyak Nabi yang Jadi Pengembala Kambing?

2 hours ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

20 February 2026 17:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam tradisi Islam, terdapat satu fakta menarik yang jarang disadari yakni banyak Nabi pernah menjadi penggembala kambing.

Hal ini bukan sekadar kebetulan historis, tetapi diyakini memiliki hikmah mendalam dalam membentuk karakter kepemimpinan para nabi sebelum mereka menjalankan misi kenabian.

Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW pernah bekerja sebagai penggembala kambing pada masa mudanya di Mekkah. Profesi ini menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup beliau sebelum dikenal sebagai pedagang dan kemudian nabi terakhir dalam Islam.

Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW  bersabda:

"Allah tidak mengutus seorang nabi pun kecuali ia pernah menggembala kambing."

Ketika para sahabat bertanya apakah beliau juga melakukannya, Rasulullah menjawab bahwa beliau pernah menggembala kambing milik penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath (HR. Bukhari).

Nabi Ibrahim AS tercatat sebagai sosok peternak sukses pada masanya. Aktivitas ekonomi berbasis peternakan menjadi sumber utama penghidupan keluarga beliau, terutama melalui usaha penggembalaan kambing dan biri-biri dalam jumlah besar.

Dalam bukunya Historiografi Haji Indonesia, Dr. M. Shaleh Putuhena menuliskan bahwa Nabi Ibrahim menghidupi keluarganya melalui kegiatan beternak. Model ekonomi pastoral ini menjadi salah satu bentuk sistem produksi paling awal di kawasan Timur Tengah kuno.

Catatan sejarah menyebutkan perjalanan penggembalaan Nabi Ibrahim menempuh jarak sangat jauh, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan kilometer. Perjalanan tersebut bermula dari wilayah Haran di Mesopotamia, kemudian meluas hingga kawasan Palestina dan sempat menyeberang ke Mesir.

Latihan Kepemimpinan Sejak Dini

Profesi penggembala bukan pekerjaan sederhana. Mengurus kambing menuntut kesabaran tinggi, tanggung jawab, serta kemampuan melindungi makhluk yang relatif lemah. Kambing mudah terpencar, rentan terhadap predator, dan membutuhkan perhatian konstan.

Pengalaman ini dianggap menjadi "latihan kepemimpinan alami" sebelum mereka membimbing umat manusia. Mereka dituntut sabar menghadapi perbedaan karakter, konflik, hingga kelemahan manusia, sebagaimana menghadapi perilaku hewan ternak.

Menumbuhkan Empati dan Kasih Sayang

Menggembala kambing juga membentuk empati. Interaksi intens dengan makhluk hidup yang lemah memunculkan sifat lembut, kepedulian, serta rasa tanggung jawab.

Pengalaman ini membantu para nabi memahami kondisi umatnya, termasuk mereka yang lemah, tersesat, atau membutuhkan bimbingan.

Selain itu, pekerjaan ini biasanya dilakukan di alam terbuka dan relatif sunyi. Situasi tersebut memberi ruang refleksi, ketenangan, dan kedekatan spiritual.

Mengapa Kambing?

Kambing diyakini sebagai spesies pertama yang didomestikasi sebagai ternak sekitar 8000 SM di wilayah Mesopotamia, yang kini dikenal sebagai kawasan Timur Tengah. Wilayah domestikasi ini juga merupakan tempat lahirnya salah satu peradaban paling awal di dunia, yaitu bangsa Sumeria, dan kambing memiliki pengaruh besar dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Pentingnya hewan kecil namun sangat bermanfaat ini bagi masyarakat kuno menjadi alasan mengapa kambing dianggap sebagai entitas suci yang disembah berdampingan dengan para dewa, serta diakui dalam berbagai mitos dan legenda.

Dalam kehidupan masyarakat Timur Tengah hingga saat ini, kambing tetap menjadi bagian ekonomi yang penting, terutama dalam pemanfaatan lahan kering dan semi-kering melalui sistem peternakan kambing dan domba. Hal ini menunjukkan kesinambungan tradisi yang panjang serta manfaat kambing yang bertahan lama, yang dalam banyak kasus tidak dapat digantikan oleh jenis ternak lain.

Selain itu, kambing telah menyebar ke seluruh dunia dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim, geologi, serta sistem pengelolaan peternakan. Kambing kemudian menjadi bagian penting dalam perekonomian di negara-negara Mediterania, anak benua India, Asia Timur, Afrika, hingga benua Amerika.

Peradaban-peradaban kuno pertama muncul di Mesopotamia, Mesir, lembah Sungai Indus, lembah Sungai Huang He (Sungai Kuning) di Tiongkok, pulau-pulau Mediterania Timur seperti Kreta, Cyclades, dan Siprus, serta di Amerika Tengah.

Semua peradaban tersebut memiliki sejumlah kesamaan, yaitu pembangunan kota, penemuan sistem tulisan, domestikasi dan pengembangbiakan hewan, pengolahan lahan pertanian, serta pembentukan struktur sosial dan sistem pemerintahan.

(mae/mae)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |