Sarjito, calon bos Bursa Mineral OJK, soroti tantangan RI jadi penentu harga komoditas global.
M Sarjito menjalani Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) sebagai calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) sekaligus Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (24/8/2026). Dalam uji kelayakan tersebut, Sarjito mengungkap sejumlah tantangan yang akan dihadapi dalam pengembangan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Indonesia. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Sarjito mengatakan Indonesia memiliki kekayaan mineral dan komoditas yang melimpah serta berperan penting bagi perekonomian nasional dan rantai pasok global. Pada 2025, sektor pertambangan dan penggalian berkontribusi 8,75% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Dari sisi produksi global, Indonesia mendominasi sejumlah komoditas strategis. Salah satunya nikel dengan porsi produksi mencapai 67% sehingga menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar dunia, jauh di atas Filipina 7% dan Rusia 5%. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Dominasi juga terlihat pada komoditas minyak sawit. Produksi Indonesia menyumbang 57% terhadap produksi global, sedangkan Malaysia sekitar 25% dan Thailand 5%. Meski unggul dari sisi produksi, Sarjito menilai posisi Indonesia belum sebanding dalam menentukan harga komoditas. Sejumlah harga mineral Indonesia masih mengacu pada pasar dan bursa internasional. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
"Bagaimana RI penghasil nikel terbesar di dunia tapi harganya tidak ditentukan? Negara lain ada yang di London Metal Exchange, Shanghai Futures Exchange dan lain-lain," ujar Sarjito dalam fit and proper test di hadapan Komisi XI DPR RI, Senin (24/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Menurutnya, pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis diharapkan memperkuat peran Indonesia dalam proses price discovery sekaligus mengembangkan Indonesia Reference Price. Harga referensi tersebut diharapkan terbentuk dari transaksi yang kredibel, standar mutu yang jelas, serta likuiditas pasar yang memadai. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Selain persoalan harga, Sarjito menyoroti risiko under-invoicing, praktik transfer pricing, hingga potensi pelarian devisa dalam ekosistem perdagangan komoditas. Ia juga menilai data mineral dan komoditas masih tersebar di berbagai institusi dan belum terintegrasi secara optimal. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)


















































