Danantara Fokus Bereskan 3 Persoalan Utama BUMN, Begini Jurusnya

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah berfokus membereskan tiga persoalan utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Persoalan tersebut antara lain kebijakan investasi berlebihan tanpa perhitungan return on investment (ROI), financial engineering, dan fraud.

Persoalan tersebut jika tidak ditangani akan menjadi beban yang berat bagi kinerja sejumlah BUMN. Untuk itu, Danantara terus berupaya melakukan transformasi demi perbaikan kinerja pada seluruh perusahaan BUMN.

Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria menjelaskan, setelah satu setengah tahun melakukan pemetaan, ia mengaku pihaknya sudah menemukan tiga persoalan besar yang dihadapi Danantara. Persoalan pertama adalah over investment atau investasi yang berlebihan dan tanpa mempertimbangkan potensi imbal hasil secara matang.

Persoalan kedua adalah financial engineering. Menurut Dony, hampir hampir seluruh BUMN yang bermasalah memiliki pangkal persoalan yang berasal dari rekayasa keuangan. Danantara pun telah melarang BUMN untuk melakukan rekayasa keuangan guna menciptakan kesan kinerja yang lebih baik.

"Yang (persoalan) ketiga bahwa memang fraud. Nah, tiga inilah yang menyebabkan perusahaan-perusahaan kita itu menghadapi persoalan hari ini yang harus kita selesaikan," ungkap dia dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Senin (24/8/2026).

Terlepas dari itu, beberapa entitas BUMN disebut telah menjadi contoh dari proses pembenahan lewat agenda transformasi. Di sini, Dony menyebut PT Semen Indonesia Tbk, PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina, PT Krakatau Steel Tbk hingga PT Kimia Farma Tbk sebagai perusahaan yang telah menunjukkan perubahan kinerja setelah menjalani transformasi.

Bahkan, Danantara optimistis bahwa BUMN bisa mencetak kinerja laba bersih yang lebih baik dibandingkan Temasek Holdings, perusahaan investasi global asal Singapura. Ia memproyeksikan laba bersih Danantara dapat mencapai Rp 360 triliun pada 2026. Jika tercapai, maka laba bersih Danantara akan jauh melampaui realisasi kinerja laba bersih Temasek yang berada di kisaran Rp 136 triliun.

"Jadi kalau secara size daripada net income tentu kita sudah lebih besar daripada Temasek. Tahun ini kita harapkan kita Rp 360 triliun hampir dua kali lipat daripada dua kali lipat dari Temasek. Dari Rp 136 triliun ke Rp 360 triliun," terang dia.

Dony menganggap, capaian Danantara menjadi gambaran bahwa Indonesia sebenarnya memiliki perusahaan-perusahaan yang sanggup bersaing di kancah internasional. Peningkatan kinerja ini cukup dipengaruhi oleh proses transformasi yang dilakukan Danantara terhadap sejumlah BUMN.

Dalam hal ini, transformasi tersebut dilakukan melalui pembenahan persoalan mendasar di tubuh BUMN. Sebelum transformasi ini digencarkan, Danantara aktif memantau kondisi bisnis dan keuangan masing-masing BUMN.

Bukan hanya melakukan transformasi domestik, Danantara juga aktif mendorong BUMN-BUMN untuk berekspansi ke pasar global. Sebagai contoh, Danantara telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan produsen protein global, JBS. Di samping itu, Danantara juga mengakuisisi hotel di Mekkah dan berencana investasi di Madinah, Arab Saudi.

"Saya juga mendorong Pegadaian untuk mulai beroperasi dan mengakuisisi dan mencoba untuk berbicara dengan perusahaan di Filipina," tandasnya.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |