Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
18 February 2026 16:25
Jakarta, CNBC Indonesia- Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) sepanjang Januari-Desember 2025 memperlihatkan lonjakan tinggi pada sejumlah pos tarif. Satu Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menempatkan 10 kelompok barang dengan pertumbuhan paling besar secara tahunan.
Beberapa berasal dari basis ekspor kecil, sebagian lain dari sektor industri berat bernilai ratusan juta dolar AS.
Lonjakan ekspor ini diharapkan kembali terjadi pada tahun ini, terutama dengan kesepakatan dagang kedua negara.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto tiba di Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 11.55 waktu setempat. Dalam kunjungannya ke AS kali ini, Presiden Prabowo diagendakan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump. Pertemuan difokuskan untuk membahas penguatan hubungan Indonesia dan Amerika Serikat, serta kerja sama strategis di berbagai bidang ekonomi dengan adanya beberapa perundingan serta perjanjian dagang.
Seng Paling Tinggi Secara Persentase
Kode HS 79 atau seng dan barang daripadanya tumbuh 250,94% dibanding periode sebelumnya. Nilai ekspor 2025 tercatat US$ 0,447 juta, naik dari hampir nol pada tahun sebelumnya.
Ketika basis awal sangat kecil, tambahan kontrak ekspor langsung mendorong pertumbuhan persentase berlipat.
Angka ini belum mengubah struktur ekspor secara keseluruhan, tetapi membuka ruang penetrasi pasar bahan baku logam di AS.
Kimia Anorganik Tembus US$ 163 Juta
HS 28, yaitu bahan kimia anorganik serta senyawa berbasis logam mulia dan unsur terkait, naik 28,61% menjadi US$ 163,959 juta. Tahun sebelumnya berada di kisaran US$ 5,54 juta.
Kenaikan ini berkaitan dengan kebutuhan industri AS pada material kimia untuk manufaktur, elektronik, hingga energi. Indonesia masuk sebagai pemasok alternatif di tengah penyesuaian rantai pasok global.
Dampaknya lebih luas karena nilai ekspornya besar. Berkontribusi langsung pada surplus perdagangan nonmigas dengan AS.
HS 47 (pulp dan kertas daur ulang) tumbuh 15,58% menjadi US$ 0,12 juta. HS 30 (produk farmasi) naik 11,08% menjadi US$ 1,79 juta. HS 31 (pupuk) bertambah 4,15% menjadi US$ 0,744 juta.
Di sektor pulp, dorongan datang dari kebutuhan bahan baku industri kemasan dan kertas khusus. Farmasi bergerak karena ekspor produk generik dan bahan baku obat. Pupuk terdorong oleh kebutuhan agrikultur.
Implikasinya berbeda pada tiap sektor. Farmasi memberi peluang peningkatan nilai tambah, sementara pulp dan pupuk masih kuat di sisi komoditas dasar.
HS 66 (payung dan tongkat) naik 4,76% menjadi US$ 1,607 juta. HS 14 (bahan anyaman nabati) tumbuh 2,66% menjadi US$ 0,562 juta. HS 49 (produk percetakan) naik 2,48% menjadi US$ 5,597 juta.
Di kelompok industri dasar, HS 70 (kaca) meningkat 1,85% menjadi US$ 30,436 juta. HS 74 (tembaga) bertambah 1,59% menjadi US$ 14,458 juta.
Kenaikan pada kaca dan tembaga berkaitan dengan kebutuhan konstruksi dan manufaktur di AS. Barang anyaman dan payung bergerak di ceruk pasar ritel. Percetakan bertahan di segmen tertentu meski industri global bergeser ke digital.
Pertumbuhan ekstrem muncul pada pos dengan basis kecil. Kedua, sektor kimia dan material industri mulai memperbesar porsi nilai ekspor.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

















































