India Tiba-Tiba Obral Besar-besaran Saham BUMN, Darurat Keuangan?

12 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah India kini tengah menggelar "obral" besar-besaran untuk kepemilikan saham di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Meskipun kondisi bursa saham sedang tidak bergairah, sejak awal tahun ini mereka telah berhasil mendivestasikan 10 perusahaan pelat merah.

Mengutip CNBC International, Selasa (18/08/2026), beberapa perusahaan yang sahamnya telah dilepas pada tahun ini mencakup Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, hingga Coal India, di mana penyelesaian salah satu transaksi divestasi terbesar tahun ini baru saja dirampungkan pada awal bulan ini.

Delhi juga sukses meraup dana segar sebesar US$ 3,3 miliar (Rp 58,74 triliun) melalui pelepasan 6,5% saham di Life Insurance Corporation of India (LIC) yang merupakan perusahaan asuransi jiwa terbesar di negara itu. Penerapan diskon harga di kisaran 10% terbukti menjadi strategi jitu untuk memancing ketertarikan investor, yang berujung pada membeludaknya permintaan hingga melampaui porsi saham yang ditawarkan (oversubscribed).

Walaupun secara regulasi pemerintah memang dituntut untuk memangkas porsi kepemilikan di sejumlah perusahaan demi mematuhi ketentuan pencatatan bursa, eskalasi transaksi divestasi pada tahun ini berlangsung sangat cepat dan dalam skala yang luar biasa besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai catatan, India terakhir kali mampu memenuhi target tahunan penjualan saham BUMN pada periode tahun fiskal yang berakhir di bulan Maret 2019 silam.

Gelombang Divestasi

Di luar penjualan saham LIC, pemerintah India telah melepas kepemilikan di sembilan perusahaan BUMN sepanjang 2026 dan berhasil menghimpun hampir 270 miliar rupee (sekitar Rp46,2 triliun). Menurut penyedia data pasar Prime Database, angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Sementara itu, hasil penjualan saham LIC saja melampaui angka tersebut dengan selisih yang cukup besar. Hal ini menunjukkan semakin besarnya kecenderungan pemerintah India mengandalkan divestasi aset negara untuk menghimpun dana tanpa harus memperlebar defisit fiskal.

Para analis menilai pemerintah berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penghimpunan dana sebesar 800 miliar rupee (sekitar Rp138,6 triliun) dari penjualan saham BUMN pada tahun ini. Dana tersebut dinilai akan menjadi sangat penting bagi India dalam menghadapi tekanan ekonomi makro yang semakin besar.

"Sejauh ini, pemerintah India telah memenuhi lebih dari 65% target divestasi tahunannya," ungkapnya.

Menjaga Mesin Ekonomi Tetap Berjalan

Mengutip Reuters, tantangan fiskal yang berat beberapa tahun terakhir mendorong pemerintah Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi mengambil langkah agresif untuk mencari dana. Penjualan dilakukan untuk menjaga mesin pertumbuhan tetap berjalan di tengah defisit fiskal yang semakin melebar.

Dana tersebut diyakini akan membantu memperkuat neraca keuangan negara yang tertekan akibat perang terutama konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah. Di sisi lain, penerimaan negara juga melemah setelah pemerintah memangkas sejumlah tarif pajak tidak langsung.

"Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah akan melampaui target defisit fiskal sebesar 4,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini," paparnya.

Sementara itu, analis ANZ memperingatkan bahwa kenaikan subsidi pupuk serta biaya pembayaran utang berpotensi memperlebar defisit fiskal hingga 0,3% PDB. Tekanan tersebut diperkirakan akan mendorong pemerintah mempercepat program divestasi aset negara.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |