Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
26 March 2026 08:15
Jakarta, CNBC Indonesia- Lonjakan harga sulfur mulai mengirim sinyal keras ke pasar global. Harga futures melonjak menembus CNY 5.180 per ton, level tertinggi sepanjang masa, setidaknya yang pernah dicatat.
Kenaikan ini muncul di tengah gangguan distribusi dari Timur Tengah, wilayah yang memegang peran besar dalam rantai pasok pupuk dunia.
Melansir Trading Economics, hampir separuh pasokan sulfur global berasal dari kawasan tersebut. Jalur kunci ada di Selat Hormuz.
Ketika aliran terganggu, pasokan langsung tersendat. Dampaknya terasa cepat karena periode ini bertepatan dengan musim tanam, saat permintaan pupuk meningkat.
Foto: Trading Economics
Pergerakan Harga Sulfur
Sulfur menjadi bahan baku utama dalam produksi asam sulfat. Senyawa ini dipakai untuk membuat pupuk fosfat, terutama untuk komoditas seperti kedelai dan jagung. Ketika pasokan sulfur menyusut, produksi pupuk ikut tertekan. Produsen kini berebut bahan baku dengan sektor industri lain yang juga membutuhkan asam sulfat, termasuk pertambangan untuk ekstraksi logam.
Tekanan sebenarnya sudah terbentuk sebelum konflik. Permintaan dari industri logam meningkat, sementara ekspor dari negara produsen utama seperti China dan Rusia mengalami pembatasan. Ketika gangguan logistik terjadi, kondisi yang sudah ketat berubah menjadi krisis pasokan.
Menurut S&P Global, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 47% perdagangan sulfur laut global. Angka ini menunjukkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Ketergantungan juga terlihat di negara importir besar. Tujuh dari sepuluh importir utama mengambil lebih dari 40% pasokan mereka dari kawasan ini.
Gangguan selama satu bulan berpotensi menghilangkan 1 hingga 1,5 juta ton sulfur dari pasar. Jika berlangsung tiga bulan, kehilangan pasokan bisa menembus 4 juta ton. Kekurangan ini membuka ruang kenaikan harga lanjutan.
Harga bahkan diproyeksikan bisa melampaui US$800 per ton. Level ini membawa implikasi langsung.
Beberapa industri akan mulai menahan konsumsi karena biaya tidak lagi ekonomis. Produsen nikel dengan metode tekanan tinggi dan produsen fosfat berbiaya rendah masuk dalam kelompok yang paling terdampak.
Efeknya tidak berhenti di sulfur. Rantai pupuk berbasis nitrogen ikut tertekan. Kawasan yang sama juga menyumbang sekitar 35% perdagangan urea global dan 24% amonia. Ketika distribusi terganggu, pasokan pupuk utama dunia ikut tersendat.
Harga urea sendiri sudah naik 44,9% sejak sebelum konflik, mencapai US$710 per ton. Amonia naik 15,8% ke US$550 per ton. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan tekanan biaya energi dan logistik.
India menjadi salah satu titik paling rentan. Negara ini sangat bergantung pada impor urea dan amonia.
Brasil berada dalam posisi berbeda. Saat ini belum memasuki musim aplikasi pupuk, sehingga tekanan masih terbatas. Namun ketergantungan impor tetap tinggi. Kapasitas produksi domestik yang tersedia belum mampu menutup kebutuhan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google


















































