Harga Minyak Sentuh US$91, Perang AS - Iran Kembali Jadi Ancaman

9 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (18/8/2026) pagi WIB. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent berada di US$91,21 per barel, naik 0,37% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$84,99 per barel atau menguat 0,58%.

Kenaikan ini memperpanjang reli harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Brent telah menguat dari US$82,49 per barel pada 6 Agustus menjadi US$91,21 per barel pada 18 Agustus. Dalam periode yang sama, WTI naik dari US$77,29 menjadi US$84,99 per barel. Artinya, Brent telah melonjak sekitar 10,6% dalam kurang dari dua pekan, sedangkan WTI menguat hampir 10%.

Penguatan harga minyak masih didorong oleh meningkatnya premi risiko geopolitik. Dilansir dari Reuters, pasar kembali berfokus pada potensi gangguan pasokan global setelah masa gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran berakhir. Teheran menyatakan akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif", sementara Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak berminat memperpanjang masa gencatan senjata.

Perubahan situasi tersebut membuat pelaku pasar kembali memasukkan risiko gangguan produksi dan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah ke dalam perhitungan harga. Kawasan ini memiliki peran penting terhadap pasokan minyak dunia sehingga setiap peningkatan tensi biasanya segera tercermin pada harga kontrak berjangka.

Reuters melaporkan harga minyak sempat melonjak lebih dari US$2 pada perdagangan Senin setelah perhatian investor kembali tertuju pada kekhawatiran pasokan global. Pada awal perdagangan Asia Selasa, kontrak Brent masih bertahan di kisaran US$91 per barel, memperlihatkan pasar belum melepaskan premi risiko yang telah terbentuk.

Kenaikan harga minyak berlangsung bersamaan dengan perubahan sentimen di pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik menjadi 4,728%, sedangkan tenor 30 tahun menyentuh 5,3146%, level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Di saat yang sama, indeks saham Wall Street melemah setelah data penjualan ritel AS secara tak terduga turun sehingga memicu penyesuaian ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi aset berisiko. Menurut Reuters, analis Westpac menilai pasar memasuki mode risk-off setelah Presiden Trump kembali menegaskan sikapnya terkait Iran. Peningkatan ketegangan di Timur Tengah mengangkat harga minyak sekaligus membebani sentimen di pasar keuangan global.

CNBC Indonesia

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |