Susi Setiawati, CNBC Indonesia
16 January 2026 11:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak pada awal perdagangan Jumat (16/1/2026) kembali ke zona merah, melanjutkan penurunan selama dua hari beruntun.
Merujuk data Refinitiv, harga minyak jenis Brent pada pukul 10.20 WIB bertengger di US$ 63,62 per barel, turun 0,22%. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,17% menjadi US$ 59,09 per barel.
Sehari sebelumnya harga minyak juga terpantau melemah, untuk jenis Brent pada Kamis jeblok 4,15%, sedangkan WTI jatuh lebih dalam 4,56%.
Pelemahan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa tekanan terhadap demonstran di Iran mulai mereda, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik.
Trump menyebut telah menerima laporan bahwa jumlah korban jiwa akibat penindakan protes di Iran mulai menurun, serta menegaskan bahwa belum ada rencana eksekusi massal.
Pernyataan ini mencerminkan sikap pasar masih wait and see perkembangan lanjutan, setelah sebelumnya pasar sempat dihadapkan pada retorika keras dan ancaman intervensi militer.
"Peluang Amerika Serikat untuk melakukan serangan terhadap Iran menurun drastis, dan inilah faktor utama yang menekan harga minyak hari ini," ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, seperti dikutip dari Reuters.
Tekanan tambahan datang dari laporan bahwa Amerika Serikat mulai menarik sebagian personel militernya dari pangkalan di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil menyusul pernyataan pejabat senior Iran yang memperingatkan bahwa Teheran akan menyerang pangkalan AS jika Washington melancarkan serangan.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga juga tertahan oleh kenaikan persediaan minyak mentah dan bensin AS pada pekan lalu, yang tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).
Di sisi lain, impor minyak mentah China pada Desember tercatat melonjak 17% secara tahunan. Sepanjang 2025, total impor minyak China meningkat 4,4%, dengan volume impor harian mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, menurut data resmi pemerintah.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)


















































