Harga CPO Anjlok, Ekspor Malaysia Seret Saat Pasokan Melimpah

4 hours ago 2

Review Sepekan

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

13 September 2026 09:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tertekan sepanjang pekan ini. Berdasarkan data kontrak FCPOc3 Refinitiv, CPO menutup perdagangan Jumat (11/9/2026) di RM4.814 per ton, turun RM115 atau 2,33% dibandingkan akhir pekan sebelumnya di RM4.929 per ton.

CPO sebenarnya membuka pekan dengan positif. Harga naik 0,99% ke RM4.978 pada Senin, didukung penguatan minyak mentah dan minyak nabati di Bursa Dalian.

Namun, penguatan tersebut mulai kehilangan tenaga. Harga turun tipis 0,04% menjadi RM4.976 pada Selasa dan kembali melemah 0,20% ke RM4.966 pada Rabu.

Tekanan jual membesar pada dua perdagangan terakhir. CPO anjlok 1,63% ke RM4.885 pada Kamis dan kembali turun 1,45% menuju RM4.814 pada Jumat.

Sepanjang pekan, penutupan tertinggi tercatat di RM4.978 dan terendah di RM4.814 per ton. Rentang pergerakannya mencapai RM164 atau sekitar 3,29%.

Stok dan Ekspor Jadi Tekanan Utama

Tekanan terbesar datang setelah Malaysian Palm Oil Board melaporkan persediaan minyak sawit Malaysia pada Agustus meningkat 7,48% secara bulanan menjadi 2,82 juta ton.

Produksi CPO naik 1,39% menjadi 1,82 juta ton, sedangkan ekspor justru turun 7,50% menjadi 1,29 juta ton. Kenaikan produksi yang tidak diikuti permintaan ekspor memperkuat kekhawatiran kelebihan pasokan.

Tekanan juga datang dari aktivitas ekspor awal September. AmSpec memperkirakan ekspor Malaysia pada 1-10 September turun 17,46%, sementara Intertek Testing Services mencatat penurunan 11,71%.

Kenaikan harga minyak mentah dan minyak kedelai memang sempat membatasi pelemahan CPO. Namun, sentimen tersebut belum cukup kuat melawan peningkatan stok dan lesunya ekspor.

Sentimen Indonesia Beri Penopang

Dari Indonesia, harga referensi CPO untuk September 2026 ditetapkan sebesar US$1.007,51 per ton, naik 1,10% dibandingkan Agustus.

Pemerintah juga menetapkan bea keluar CPO sebesar US$148 per ton dan pungutan ekspor sekitar US$125,94 per ton. Biaya ekspor yang lebih tinggi berpotensi mengurangi pasokan Indonesia di pasar global dan meningkatkan daya saing CPO Malaysia.

Program biodiesel B50 juga menjadi penopang jangka menengah karena meningkatkan penyerapan CPO di pasar domestik Indonesia. Meski demikian, dampaknya belum mampu menahan tekanan pasokan Malaysia dalam jangka pendek.

Tren Jangka Pendek Berubah Bearish

Secara teknikal, penutupan di RM4.814 sudah berada di bawah rata-rata lima hari sebesar RM4.923,80, rata-rata 10 hari RM4.927,70, dan rata-rata 20 hari RM4.893,90.

Indeks kekuatan relatif atau RSI 14 hari berada di sekitar 39,8. Angka tersebut menunjukkan momentum melemah, tetapi harga belum memasuki area jenuh jual.

CPO juga membentuk puncak lebih rendah dari RM5.018 pada 21 Agustus menjadi RM4.978 pada awal pekan ini. Penutupan Jumat bahkan sedikit menembus posisi terendah sebelumnya di RM4.816.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |