Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
08 April 2026 15:35
Jakarta,CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama hari ini dengan penguatan yang sangat impresif, melesat 3,39% dan kokoh bertengger di level 7.207,16.
Sentimen positif ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik dan ekspektasi tercapainya gencatan senjata global. Kondisi ini membawa kepastian yang ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar, memicu perputaran arus modal, dan memberikan ruang bagi penyesuaian harga komoditas yang menjadi katalis bagi berbagai sektor fundamental di bursa.
Berikut adalah ringkasan kinerja keuangan dan valuasi pasar dari lima emiten yang menjadi fokus karena berpotensi menjadi emiten yang cukup diuntungkan atas menurunnya eskalasi perang di Timur Tengah saat ini, berdasarkan laporan tahun penuh 2025:
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
Meredanya eskalasi konflik secara otomatis memunculkan kepastian makroekonomi di pasar. Dengan adanya kepastian ini, selera risiko (risk appetite) dari pelaku usaha maupun individu akan kembali meningkat.
Masyarakat dan korporasi akan mulai berani mengambil risiko untuk melakukan ekspansi bisnis atau konsumsi melalui pengambilan kredit. Kondisi ini menjadi sentimen yang sangat positif bagi perbankan besar seperti BMRI.
Peningkatan penyaluran kredit ini diperkirakan akan tersebar secara merata di berbagai segmen, mulai dari kredit korporasi untuk belanja modal hingga pembiayaan konsumer.
Likuiditas perbankan yang memadai akan memudahkan BMRI merespons permintaan ini tanpa mengorbankan kualitas aset. Secara kinerja, BMRI mencetak hasil yang solid dengan pendapatan Rp 164,4 triliun dan laba bersih mencapai Rp 56,29 triliun pada tahun 2025.
Kinerja ini didukung oleh margin laba bersih di level 34,2%. Pada harga Rp 4.660, saham BMRI diperdagangkan di valuasi rasional dengan PER 8,29 kali dan PBV 1,43 kali, serta tingkat pengembalian ekuitas (ROE) 17,19%.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
Penurunan harga minyak mentah global membawa keuntungan tersendiri bagi sektor FMCG. Sebagai emiten yang memproduksi barang konsumsi secara masif, UNVR sangat bergantung pada turunan minyak mentah dalam pembuatan bahan baku kemasan plastik.
Turunnya harga minyak berarti beban pokok penjualan perseroan akan menurun secara signifikan. Kelegaan pada tekanan rantai pasok ini memberikan fleksibilitas tambahan bagi perseroan untuk tidak segera menaikkan harga jual produk di tingkat konsumen ritel.
Keputusan mempertahankan harga menjadi strategi krusial guna menjaga pangsa pasar dan volume penjualan di tengah persaingan industri yang ketat.
Efisiensi ini tergambar pada kinerja perseroan, di mana UNVR berhasil membukukan laba bersih Rp 7,64 triliun dari pendapatan Rp 31,9 triliun sepanjang 2025. Perusahaan mencatatkan tingkat ROE yang tinggi di 170,75%, yang membenarkan valuasi PBV premium di level 19,52 kali pada harga saham Rp 1.935.
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
Sentimen dari kembalinya beberapa negara industri di Asia yang menggunakan batu bara untuk memastikan ketahanan energi domestik terus menjadi penyangga utama pergerakan harga komoditas ini.
Walaupun secara tahunan terjadi penyesuaian, ADMR masih menunjukkan kualitas fundamental yang tangguh. Fokus perseroan pada batu bara metalurgi yang esensial untuk produksi baja juga memberikan perlindungan tersendiri terhadap fluktuasi harga energi secara umum.
Neraca keuangan yang minim utang memungkinkan ADMR mendanai proyek hilirisasi tanpa tekanan beban bunga yang berlebihan. Sepanjang tahun penuh 2025, perusahaan mengamankan pendapatan Rp 16,3 triliun dengan laba bersih Rp 4,55 triliun.
Struktur permodalan sangat sehat tercermin dari rasio utang terhadap ekuitas (DER) di level 0,68 kali. Dengan margin laba bersih 27,9%, ADMR menawarkan efisiensi tinggi di tengah siklus harga komoditas.
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
Prospek pada emiten logam mulia seperti ARCI saat ini lebih bertumpu pada tesis pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat atau indeks DXY.
Pergerakan harga emas terbukti sangat volatil; sempat meroket ke US$ 5.400 saat awal konflik, terkoreksi tajam ke US$ 4.100 di pertengahan krisis, dan kini kembali rebound ke level US$ 4.800-an.
Konsolidasi harga emas di level yang relatif masih tinggi ini tetap memberikan kepastian arus kas operasional yang solid. Selama tingkat suku bunga global tidak naik agresif, aset emas akan tetap diminati sebagai pelindung nilai, menopang valuasi perseroan secara jangka panjang.
Fluktuasi ini dimaksimalkan oleh ARCI, yang mencatatkan lonjakan laba bersih menjadi Rp 1,7 triliun dari pendapatan Rp 8,3 triliun pada 2025. Profitabilitas ini mendorong ROE ARCI menembus 28,06%, didukung rasio utang terkelola pada DER 1,83 kali.
PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR)
Sektor logistik maritim, khususnya SMDR, saat ini mendapatkan keuntungan ganda dari kondisi pasar global. Harga minyak dunia tercatat telah turun dari kisaran US$ 109 ke level US$ 93 per barel seiring membaiknya prospek gencatan senjata.
Turunnya harga minyak memangkas biaya bahan bakar kapal secara drastis, sementara tarif angkutan laut (freight rates) global masih bertahan di level tinggi.
Selisih (spread) yang semakin lebar antara biaya operasional yang menurun dan tarif jasa yang premium akan langsung berdampak pada ekspansi margin perseroan.
Hal ini memberikan visibilitas arus kas yang positif bagi SMDR untuk dialokasikan pada peremajaan armada atau pembagian dividen. Berdasarkan laporan 2025, SMDR membukukan laba bersih Rp 873,5 miliar.
Pada harga Rp 348 per lembar, saham ini diperdagangkan pada valuasi yang sangat murah dengan PBV hanya 0,44 kali dan PER 6,60 kali.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)














































