Fadli Zon Kritik Saiful Mujani soal Prabowo, Bicara Perilaku Pengkhianat

3 hours ago 1
Jakarta -

Waketum Partai Gerindra Fadli Zon mengkritik ucapan pengamat politik, Saiful Mujani, yang viral soal 'jatuhkan Prabowo'. Fadli Zon menyebut Saiful Mujani tidak mengerti arti demokrasi.

Fadli Zon awalnya menjelaskan soal adanya tuduhan-tuduhan terhadap Presiden Prabowo Subianto, salah satunya tuduhan Prabowo otoriter. Dia menyebut Prabowo justru tokoh yang memilih jalan demokrasi dari dulu.

"Saya juga menyertai beliau dan bersaksi kalau ada orang yang mengatakan beliau itu otoriter, justru ahistoris. Ahistoris karena Pak Prabowo itu sudah memilih jalan demokrasi dari dulu. Begitu beliau selesai dari dinas militer ya pada tahun 1999-an dan masuk ke dunia sipil, Pak Prabowo memilih masuk ke organisasi-organisasi sipil. Termasuk bahkan ikut di dalam konvensi partai politik ketika itu di tahun 2004 dan kemudian mendirikan partai politik, Partai Gerindra," kata Fadli Zon di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Fadli Zon menyebut Prabowo sudah merasakan empat kali kekalahan dalam kontestasi Pilpres. Menurutnya, meski berkali-kali kalah, Prabowo justru tidak pernah menyerah pada demokrasi.

"Berkompetisi di tahun 2009 sebagai calon wakil presiden, kalah. Waktu itu saya menjadi sekretaris dari timnya. Begitu juga di 2014 maju lagi sebagai calon presiden, 2019 juga maju lagi, kalah lagi. Jadi mengalami empat kali kekalahan gitu ya kalau kita lihat. Itu artinya apa? Pak Prabowo tidak pernah menyerah pada demokrasi, tidak pernah menyerah pada jalan demokrasi. Jadi kalau kita lihat Pak Prabowo itu ikut kontestasi berkali-kali, kalah, dan alhamdulillah pada tahun 2024 akhirnya menang," ucap dia.

Fadli menyebut kemenangan Prabowo disertai dengan dukungan 58 persen pemilih atau sekitar 96 juta pemilih. Ia mengaku heran perjalanan Prabowo itu justru dikerdilkan dengan menyebutnya sebagai otoriter.

"Nah jadi kalau ada seseorang yang mengaku intelektual dan mengatakan bahwa Pak Prabowo itu otoriter itu menurut saya ahistoris. Apalagi orang itu mempunyai latar belakang hidupnya itu dari dunia demokrasi, gitu ya. Nah kadang-kadang memang orang yang mengaku-ngaku demokrasi atau yang paling demokratis itu tidak mengerti arti demokrasi," ujar dia.

Fadli kemudian membahas para pengamat hingga pakar yang justru tidak pernah merasakan langsung demokrasi. Dia menyampaikan mereka justru terkadang yang merasa lebih hebat dari yang terjun langsung. "Nah kadang-kadang orang yang mengamati itu adalah orang yang tidak tahu permainan. Kalau dalam sepak bola itu pengamat lah gitu ya. Non-playing captain. Kadang-kadang dia lebih hebat dari para pemain sepak bola gitu ya," imbuhnya.

Dia lantas menyinggung pakar Saiful Mujani. Ia menyinggung pernyataan inkonstitusional Saiful Mujani yang hendak menurunkan Prabowo.

"Jadi ya karena dia pengamat, bahkan dia mendapatkan ya kalau kemarin nih siapa Pak Saiful Mujani. Orang harusnya tahu dong dia, tahu ngerti demokrasi apalagi profesor gitu ya. Tapi apakah dia pernah ikut berkontestasi di dalam demokrasi? Pernah enggak? Coba dia jadi anggota legislatif di salah satu partai atau menjadi apa gitu mendapatkan dukungan rakyat, baru mengerti arti demokrasi. Jangan memprovokasi apa namanya secara inkonstitusional untuk mengajak menurunkan," ucapnya.

Berkaca dari itu, Fadli pun mengajak semua pihak untuk menghindari perilaku pengkhianat. Ia menyebut pengkhianat memang selalu ada di setiap zaman.

"Jadi, kita ingin menghindari lah, artinya, perilaku pengkhianat. Karena di dalam sejarah kita, seringkali dalam situasi-situasi tertentu, dulu waktu mau ada agresi militer Belanda pertama, agresi militer Belanda kedua, selalu ada pihak yang menusuk dari belakang, stabbing from the back gitu ya. Jadi kita lagi para pemimpin konsentrasi melawan Belanda, ada yang menusuk dari belakang. Jadi ciri-ciri pengkhianat semacam itu memang selalu ada di setiap zaman," jelasnya.

"Dan menurut saya itu sesuai dengan kata pepatah, pengkhianat itu menusuk dari belakang, menggunting dalam lipatan, gitu ya, mengail di air keruh. Kira-kira begitu. Nah ini yang menurut saya budaya yang tidak baik. Ada budaya yang harus kita kembangkan, ada budaya yang harus kita tinggalkan. Budaya menggunting dalam lipatan itu menurut saya adalah ya tidak baik gitu ya. Jadi ciri-ciri pengkhianat itu ya seperti itu," lanjut dia.

Istana Buka Suara

Video Saiful Mujani mengatakan jatuhkan Prabowo diketahui tengah ramai di media sosial (medsos). Dalam video yang beredar, Saiful Mujani berbicara soal menjatuhkan Prabowo untuk menyelamatkan bangsa.

"Saya alternatifnya bukan, bukan pada prosedur yang formal impeachment seperti itu, itu tidak akan jalan. Yang jalan hanya ini, bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo, hanya itu. Kalau nasihati Prabowo nggak bisa juga, bisanya hanya dijatuhkan. Itulah menyelamatkan, bukan menyelamatkan Prabowo, tapi menyelamatkan diri kita dan bangsa ini," kata Saiful Mujani dalam video viral seperti dilihat, Minggu (5/4).

Seskab Teddy Indra Wijaya kemudian merespons hal itu. Dia mengatakan masih banyak hal yang harus dikerjakan.

"Wah, saya masih banyak sekali pekerjaan. Saya belum lihat beliau bicara apa. Gitu kira-kira," kata Teddy di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4).

Teddy mengatakan Prabowo berfokus pada hal yang besar. Dia menyebut banyak hal lebih strategis yang sedang dikerjakan Prabowo.

Saksikan Live DetikSore :

(rdp/rdp)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |