- Pasar keuangan Indonesia berakhir cerah, bursa saham dan rupiah mampu menguat pada perdagangan Jumat pekan lalu
- Wall Street berhasil bangkit pada perdagangan terakhir pekan lalu
- Defisit NPI, uang beredar, inflasi AS, dan Simposium Jackson Hole akan menjadi penggerak pasar dalam pekan perdagangan yang lebih singkat seiring libur Maulid Nabi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kompak menguat, sementara obligasi pemerintah menghadapi tekanan.
Pasar keuangan diperkirakan akan menghadapi sejumlah tekanan pada pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan dapat dibaca pada halaman tiga artikel ini.
IHSG ditutup menguat 0,37% ke level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan indeks berlangsung di tengah ramainya transaksi saham dan masuknya dana investor asing.
Nilai transaksi saham mencapai Rp17,47 triliun dengan volume 59,12 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,25 juta kali. Sebanyak 319 saham menguat, 294 saham melemah, dan 178 saham tidak bergerak.
Investor asing membukukan pembelian bersih atau net buy senilai Rp974,57 miliar.
Kenaikan IHSG ditopang oleh penguatan saham-saham perbankan, terutama bank pelat merah. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melesat 3,90% ke Rp3.730, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 2,87% menjadi Rp3.230.
Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) turut naik 1,98% ke Rp1.805. Disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menguat 1,69% menjadi Rp4.220 dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) yang naik 1,66% ke Rp1.225.
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga mencatat penguatan 0,78% menjadi Rp6.450.
Beralih ke pasar valuta asing, rupiah menutup perdagangan pekan lalu dengan kinerja perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah pada Jumat (21/8/2026) ditutup menguat 0,31% ke posisi Rp17.685/US$.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif rupiah menjadi tiga hari perdagangan beruntun. Posisi Rp17.685/US$ juga menjadi penutupan terkuat sejak 22 Mei 2026 atau hampir tiga bulan terakhir.
Pada awal perdagangan, rupiah dibuka menguat 0,14% ke posisi Rp17.720/US$, kemudian bertambah kuat 35 poin hingga penutupan.
Secara mingguan, mata uang Garuda membukukan apresiasi sekitar 0,76% dibandingkan posisi penutupan Jumat sebelumnya di Rp17.820/US$.
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah bergerak melemah. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,43% pada Jumat kemarin hingga ditutup di 6,960%.
Kenaikan imbal hasil menunjukkan harga obligasi pemerintah bergerak turun karena hubungan keduanya berbanding terbalik.
















































