Digandeng Danantara, Ini Gurita Bisnis JBS: Raksasa Penghasil Daging

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

24 August 2026 11:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Danantara Indonesia melalui Danantara Investment Management (DIM) menggandeng JBS Group, salah satu produsen protein terbesar dunia, dalam kemitraan strategis jangka panjang.

Kemitraan ini mencakup operasional JBS di Australia dan Selandia Baru. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Danantara untuk menggandeng operator kelas dunia sekaligus membidik investasi di sektor yang memiliki prospek global dan potensi penciptaan nilai jangka panjang.

Danantara akan menginvestasikan US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,3 triliun (US$1= Rp 17.690) untuk memperoleh 25% saham perusahaan patungan atau joint venture (JV) baru. JV tersebut akan menaungi operasi JBS di Australia dan Selandia Baru.

Dengan demikian, total modal yang tersedia berpotensi mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp88,5 triliun. Dana tersebut direncanakan untuk membiayai akuisisi dan pembangunan proyek baru di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Transaksi masih memerlukan persetujuan regulator serta pemenuhan persyaratan penyelesaian lainnya.

Secara matematis, investasi US$2,5 miliar untuk kepemilikan 25% mengindikasikan valuasi ekuitas sekitar US$10 miliar atau Rp178 triliun bagi JV. Angka ini hanya perhitungan aritmetika, bukan valuasi resmi, karena struktur aset, utang, dan ketentuan pemegang saham JV belum dipublikasikan.

Dari Toko Daging Kecil Menjadi Raksasa Global

JBS bermula dari toko daging Casa de Carnes Mineira yang didirikan José Batista Sobrinho atau "Zé Mineiro" di Anápolis, Brasil, pada 1953. Nama JBS berasal dari inisial pendirinya.

Perusahaan kemudian tumbuh melalui penambahan fasilitas produksi dan serangkaian akuisisi internasional. Ekspansinya semakin agresif sejak dekade 2000-an ketika JBS mengambil alih Swift & Company di Amerika Serikat dan masuk ke Pilgrim's Pride.

JBS selanjutnya memperluas bisnis melalui Seara, Moy Park, Primo Foods, Rivalea, Huon Aquaculture, dan kepemilikan bersama atas Mantiqueira Brasil. Rangkaian ekspansi tersebut mengubah JBS dari perusahaan daging sapi Brasil menjadi kelompok pangan global dengan strategi multiprotein dan multigeografi.

Kini JBS mempekerjakan lebih dari 280.000 orang dan mempunyai lebih dari 250 unit produksi. Secara keseluruhan, kelompok tersebut mencatat hampir 650 operasi global dan memasarkan produknya kepada lebih dari 330.000 pelanggan di sekitar 200 negara.

Secara hukum, induk perusahaan bernama JBS N.V. dan berdomisili di Belanda. Sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek New York serta di Brasil melalui Brazilian Depositary Receipts.

Per akhir 2025, J&F Investments Luxembourg yang dikendalikan keluarga Batista memiliki 50,31% saham. BNDESPar memegang 18,65%, sedangkan pemegang saham lainnya menguasai 31,04%.

Gurita Bisnis JBS

JBS tidak hanya menjual daging mentah. Perusahaan menghasilkan daging segar dan beku, makanan siap masak, makanan siap santap, serta produk bermerek dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pelanggannya mencakup jaringan supermarket, restoran, hotel, distributor, perusahaan katering, dan industri pengolahan makanan.

Model bisnis JBS juga mencakup pemanfaatan produk sampingan. Kulit diproses untuk kebutuhan industri, sementara lemak hewan dapat dimanfaatkan sebagai bahan biodiesel. JBS turut menjalankan bisnis kolagen, kemasan logam, transportasi, terminal, dan pengelolaan limbah.

Diversifikasi menjadi salah satu kekuatan utama JBS. Ketika bisnis sapi di suatu negara tertekan oleh tingginya harga ternak, perusahaan masih dapat mengandalkan ayam, babi, makanan olahan, telur, ikan, dan operasi di wilayah lain.

Pendapatan Naik, tetapi Laba Tertekan

Karena laporan setahun penuh 2026 belum tersedia, perbandingan terbaru menggunakan kinerja semester I-2026 dengan semester I-2025.

Pendapatan JBS tumbuh 12,3%, tetapi EBITDA turun 21,9% dan laba bersih atribusi anjlok 88,5%. Tekanan terutama datang dari tingginya harga ternak dan terbatasnya pasokan sapi di Amerika Utara.

Di tengah tekanan tersebut, JBS Australia masih mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat. Operasi ini mencakup daging sapi, domba, babi, makanan olahan, dan salmon. Diversifikasi itulah yang membuat bisnis Australia dan Selandia Baru menjadi aset strategis dalam kemitraan dengan Danantara.

Bagi Indonesia, kerja sama tersebut berpotensi membuka akses terhadap teknologi pengolahan pangan, jaringan distribusi, manajemen rantai dingin, dan pasar ekspor JBS. Manfaat akhirnya akan bergantung pada realisasi investasi, transfer teknologi, penyerapan tenaga kerja, serta keterlibatan peternak dan pemasok lokal.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |