Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa rumah makan di Yogyakarta sudah memakai Compressed Natural Gas (CNG) baik dengan tabung maupun jaringan gas (jargas). Pemakaian CNG ini dinilai bisa menghemat pengeluaran operasional hingga 30% - 40%.
Diantara yang memakai CNG adalah Restoran Payakumbuah dan juga Warung Nasi Goreng Mas Wit.
PIC Restoran Payakumbuah Yogyakarta, Adi Saputro menjelaskan, bahwa sejak restoran ini berdiri pada November 2024, pihakmnya memilih untuk memakai gas CNG sebagai operasional rumah makan Padang ini.
Alasannya, memakai CNG akan lebih efisien ketimbang energi lainnya yakni LPG. Maklum, restoran ini menggunakan bahan bakar gas dengan kapasitas 2.000 m³ (meter kubik) per bulan.
"Kalau nominal pastinya turun. Efisiensi bisa sampai 30% dari pengunaan energi lain, average-nya di sekitar kalau kita pakai gas bisa sampai Rp 40 juta. Kalau menggunakan Gagas (CNG) kita bisa sampai di Rp 24 juta - 25 juta per bulan." terang Adi ditemui di Yogyakarta, dikutip Senin (24/8/2026).
Berkaitan dengan harga, kata Adi, untuk penggunaan CNG dikisaran Rp13.500 per meter kubik. Adapun pemakaian CNG untuk Restoran Payakumbuah ini mencapai 1.900 sampai 2.000 m³.
"Harga itu kan tergantung pemakaian jumlah pemakaian. Kalau jumlah pemakaian segini harganya segini. Kalau jumlah pemakaian ini harga segini. Ada ada sudah ada batasan-batasan, ada ada tabel yang sudah kita tetapkan. Jadi kita mudahlah," ungkap Adi.
Warung nasi goreng Mas Wit di Yogyakarta ini juga menggunakan CNG dengan klaster jaringan gas (jargas). Elin selaku pemilik warung nasi goreng ini menjelaskan bahwa pihaknya sudah mendengar lama terkait jarga CNG ini dan memututuskan untuk beralih penmggunaan dari LPG ke CNG jargas.
"Nah, kebetulan ditawarin siapa yang mau, terus kita mengajukan diri untuk mau, nah terus. Mungkin selang berapa bulan terus dipasangkan gitu, dipasangkan di sini. Tanpa biaya sih saat itu, dan kita boleh menentukan titiknya mau di mana," terang Elin ditemui di Yogyakarta, dikutip Senin (24/8/2026).
Ia menjebarkan, dengn menggunakan CNG jargas ini, pihaknya bisa menghemat biaya hingga 40%-an. Dari yang sebelumnya per bulan bisa mencapai Rp1,5 juta - Rp 2juta dengan menggunakan LPG, sekarang pengeluarannya hanya sekitar Rp680.000 per bulan.
"Turun drastis. Hanya bayar sepertiga dari biasa penggunaan kami yang dulu," beber Elin.
Sekarang, ia merasa sudah tidak khawatir harus mencari stok tabung LPG, apalagi jika kondisi LPG sedang mengalami kelangkaan.
"Kadang kesulitan mencari gitu kan. Oh yang sana ada tapi sini kosong. Kadang langka yang ukuran ini 12 kg, kadang yang ini 3 kg, jadi kita harus mix supaya aman. Kalau sekarang sih enggak, udah enggak karena ini kan gasnya (CNG) tersedia," ungkap Elen.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
















































