Dolar AS Tembus Rp17.000, Bos Toyota Singgung Krisis 98-Bilang Begini

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat bahkan hingga lebih dari Rp17.000 per dolar AS kerap memicu kekhawatiran di berbagai sektor. Namun di mata pelaku industri, kondisi ini tidak selalu membawa dampak negatif.

Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) justru melihat pelemahan rupiah sebagai peluang untuk memperkuat daya saing ekspor. Perspektif ini muncul di tengah tekanan global yang masih membayangi perekonomian.

Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menilai kondisi nilai tukar harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak hanya dari sisi tekanan biaya, tetapi juga potensi yang bisa dimanfaatkan.

"Sekarang tahu nggak dengan rupiah jadi Rp17.000? Indonesia jadi kompetitif jadi eksportir. Harusnya gitu," lanjut Bob.

Bob juga menyoroti, tren pelemahan rupiah bukan fenomena baru. Dalam jangka panjang, depresiasi nilai tukar sudah menjadi pola yang berulang.

"Pengalaman kita, setiap tahun rupiah akan terdepresiasi sekitar 3% sampai 4%," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap rupiah bahkan lebih besar dari rata-rata historis. Hal ini membuat pelaku usaha harus lebih siap menghadapi volatilitas.

"Yang dua tahun terakhir ini sampai 7%," tambahnya.

Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta menjadi ancaman bagi industri. Selama fondasi industri kuat, pelemahan rupiah justru bisa menjadi pendorong ekspansi.

"Berarti kalau terus melemah kalau industrinya kuat nggak salah dong," kata Bob.

Ia menekankan pentingnya perspektif jangka panjang dalam menghadapi dinamika ekonomi. Pelaku usaha tidak boleh hanya terpaku pada tekanan sesaat.

"Sebagai pengusaha kita harus lihat jangka panjangnya," ujarnya.

Pengalaman krisis masa lalu juga menjadi pelajaran penting bagi industri. Ketahanan menghadapi tekanan menjadi kunci untuk tetap bertahan dan berkembang.

"Toyota itu menghadapi saat-saat susah seperti '98. Kita nggak pernah keluar dari Indonesia," ungkap Bob.

Dengan pendekatan tersebut, pelemahan rupiah dinilai bukan sekadar risiko, melainkan peluang yang harus dikelola. Kunci utamanya adalah kesiapan industri dalam memanfaatkan momentum.

"Harusnya kita bisa manfaatkan peluang ekspor itu," tutup Bob.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |