Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (15/1/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah Garuda ditutup tertekan 0,15% ke level Rp16.880/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 24 April 2025, ketika rupiah ditutup di level Rp16.865/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka menguat hingga 0,33% dan berada di level Rp16.800/US$ pada awal perdagangan. Namun, seiring berjalannya perdagangan, tekanan jual terus meningkat sehingga rupiah berbalik melemah hingga ditutup di zona terendah hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,05% atau terapresiasi ke level 99,186.
Penguatan dolar AS ini menjadi salah satu faktor eksternal yang menekan pergerakan rupiah, seiring meningkatnya minat pelaku pasar terhadap aset berdenominasi dolar.
Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/ The Fed) di tengah rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid. Data menunjukkan inflasi produsen AS pada November meningkat tipis, disusul penjualan ritel yang tumbuh lebih kuat dari perkiraan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak memiliki rencana untuk memecat Ketua The Fed Jerome Powell, meredam kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral AS. Meski demikian, pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini, dengan peluang pemangkasan suku bunga mulai terbuka pada pertengahan tahun.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah tekanan global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menyatakan bahwa pergerakan mata uang global pada awal 2026, termasuk Indonesia, masih dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun.
Meski menghadapi tekanan eksternal tersebut, Erwin menegaskan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara berkesinambungan.
Langkah tersebut mencakup intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic NDF (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, khususnya ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, serta posisi cadangan devisa yang memadai, dinilai turut menjadi faktor penopang stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

















































