Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Jatuh ke Rp17.080/US$

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan hari ini, Kamis (9/4/2026), di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,44% ke posisi Rp17.080/US$. Pelemahan hari ini sekaligus membalikkan arah pergerakan rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya mampu menguat 0,50% ke level Rp17.005/US$.

Sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan, rupiah melemah tipis 0,06% ke level Rp17.015/US$, sebelum akhirnya tertekan lebih dalam hingga mendekati penutupan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah tipis 0,05% ke level 99,078 pada pukul 15.00 WIB.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi ketidakpastian global meski indeks dolar AS cenderung melemah tipis.

Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari laporan terbaru Bank Dunia yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 4,8% dan juga di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.

Dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tertekan oleh kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Tekanan tersebut dinilai hanya akan sebagian diimbangi oleh penerimaan komoditas dan inisiatif investasi pemerintah.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat menjadi 4,7% karena tekanan dari harga minyak yang lebih tinggi dan sentimen penghindaran risiko hanya akan diimbangi sebagian oleh penerimaan komoditas dan inisiatif investasi pemerintah," tulis Bank Dunia dalam laporannya, dikutip Kamis (9/4/2026).

Bank Dunia juga menyoroti tekanan terhadap rupiah yang antara lain dipicu kekhawatiran pasar atas kebijakan fiskal serta arus keluar modal setelah keputusan MSCI membekukan sekuritas Indonesia dari indeksnya. Kondisi ini dinilai ikut mendorong Bank Indonesia melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |