Dialog dengan Danantara, Menbud Ingin Aset Budaya Jadi Living Heritage

3 hours ago 2

Jakarta -

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon berbicara pentingnya aset budaya nasional. Menurutnya, aset budaya Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi yang manfaatnya dirasakan negara dan masyarakat.

"Kita ingin aset budaya kita menjadi living heritage, bukan sekadar dead monument. Cagar budaya harus memberi dampak ekonomi, sosial, dan kebudayaan secara berkelanjutan," jelas Fadli dalam keterangan tertulis, Selasa (24/2/2026).

Hal ini dia ungkapkan saat dialog dengan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (23/2). Keduanya membahas kolaborasi untuk mengoptimalkan aset budaya nasional agar memberi dampak ekonomi melalui pengembangan ekonomi budaya dan industri kreatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut setelah penandatanganan kerja sama terkait pengelolaan kawasan Borobudur, kolaborasi berikutnya diharapkan diperluas ke Prambanan, Ratu Boko, hingga Candi Plaosan yang baru rampung perbaikan sarana-prasarana.

Menurutnya, peningkatan fasilitas umum di kawasan cagar budaya perlu diikuti penguatan tata kelola dan daya tarik destinasi melalui sinergi dengan InJourney serta entitas di bawah Danantara.

Selain pengelolaan cagar budaya, Fadli juga menyoroti dukungan untuk partisipasi Indonesia pada Venice Biennale 2026. Ia menyebut 2026 menjadi momentum rintisan Indonesia untuk kembali hadir, dengan memanfaatkan ruang pamer di sekolah grafis di Venesia, Italia.

"Venice Biennale adalah etalase dunia. Semua negara memiliki paviliun. Indonesia harus hadir. Ini bukan sekadar pameran, tetapi bagian dari cultural economy karena terjadi banyak transaksi keuangan dan eksposur internasional," katanya.

Fadli menjelaskan, tahap awal akan mengirim tujuh seniman untuk residensi sekitar dua bulan, serta tujuh seniman lain untuk kolaborasi lintas jejaring nasional. Pemerintah menargetkan dalam dua tahun Indonesia bisa memiliki paviliun sendiri.

Ia juga menyinggung penguatan ekosistem perfilman nasional. Meski penonton film Indonesia terus meningkat, ketersediaan layar bioskop di daerah dinilai masih minim. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 2.500 layar, sementara kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 10.000 layar. Fadli membuka peluang kolaborasi dengan PFN dan entitas terkait untuk pengembangan bioskop di kabupaten/kota guna memperluas akses dan memperkuat industri film.

Pembahasan turut mencakup optimalisasi Museum Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta. Fadli mengusulkan pemanfaatan kembali gedung eks Jiwasraya di bagian belakang kompleks museum untuk memperluas fungsi dan memperkuat narasi sejarah kebangsaan.

Menanggapi hal tersebut, Dony menyatakan dukungan Danantara terhadap penguatan sektor kebudayaan, termasuk partisipasi di Venice Biennale. Ia menekankan pentingnya parameter dan indikator terukur dalam setiap kolaborasi.

"Kita perlu menetapkan KPI dan pesan strategis yang jelas dalam setiap partisipasi internasional. Jika dikemas dengan baik dan memiliki indikator keberhasilan yang terukur, dampaknya akan lebih kuat," ujar Dony.

Terkait Borobudur dan kawasan sekitarnya, Dony menegaskan komitmen optimalisasi aset budaya sebagai pengungkit ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ia menilai pengelolaan terpadu menjadi kunci peningkatan daya tarik dan jumlah kunjungan, termasuk penguatan konektivitas penerbangan menuju Yogyakarta dan destinasi terkait.

"Borobudur dan destinasi lain harus kita manfaatkan maksimal untuk Indonesia. Optimalisasi aset ini pada akhirnya untuk negara dan masyarakat," tegasnya.

Dony juga menyatakan siap mendukung koordinasi teknis terkait pengembangan Museum Naskah Proklamasi.

Pertemuan ini disebut menjadi langkah awal penguatan sinergi Kementerian Kebudayaan dan Danantara dalam mendorong kebudayaan sebagai pilar ekonomi masa depan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian warisan budaya, tetapi juga memperkuat kontribusinya terhadap ekonomi nasional dan posisi Indonesia di kancah global.

Sebagai informasi, pertemuan turut dihadiri Wamenbud Giring Ganesha Djumaryo, Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retno Astuti, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Managing Director (Holding Operasional Danantara) Febriany Eddy, serta jajaran Danantara.

Tonton juga video "Menbud Akui Penonton Bioskop Turun Drastis Pascademo Agustus 2025"

(akd/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |