Deretan Saham Ini Berpotensi Dapat Berkah Ramadan, Cek!

3 hours ago 3

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

18 February 2026 08:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah libur Imlek, pelaku pasar langsung beralih ke momen Ramadan yang bakal dimulai sebentar lagi.

Muhammadiyah dan pemerintah telah menetapkan 1 Ramadan 1477 Hijriah yang juga sebagai awal bulan puasa 2026.

Penganut Muhammadiyah mulai berpuasa hari ini, Selasa (18/2/2026) sementara Nahdlatul Ulama pada Kamis (19/2/2026).

Momen Ramadan selalu dinanti karena bukan cuma soal ibadah, tapi juga jadi penanda dimulainya pergerakan ekonomi musiman yang cukup besar.

Secara historis, Ramadan hingga Idulfitri sering menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten, terutama di sektor konsumsi. Permintaan makanan dan minuman meningkat, begitu juga produk kebutuhan harian, pakaian, hingga ritel modern. Emiten FMCG, supermarket, dan produsen bahan pokok biasanya menikmati lonjakan penjualan seiring naiknya konsumsi rumah tangga.

Tak hanya itu, sektor transportasi dan logistik juga ikut terdorong karena mobilitas mudik dan distribusi barang meningkat. Bahkan perbankan dan multifinance bisa kecipratan berkah dari naiknya transaksi serta kebutuhan pembiayaan jangka pendek.

Jadi, penentuan 1 Ramadan bukan sekadar agenda kalender keagamaan. Bagi pasar modal, ini sering menjadi momentum yang memicu rotasi sektor dan membuka peluang cuan musiman, terutama untuk emiten yang sensitif terhadap lonjakan konsumsi domestik.

Kami mengumpulkan sederet emiten yang kemungkinan bisa mendapatkan momentum positif dari seasonality Ramadan - Lebaran. Berikut rinciannya:

Di sisi lain, meski seasonality Ramadan-Lebaran sering jadi katalis jangka pendek buat saham konsumer, bukan berarti tanpa risiko. Momentum ini memang bisa mendongkrak penjualan, tapi ada beberapa faktor yang tetap perlu diwaspadai.

Pertama, tekanan dari sisi biaya. Kenaikan harga bahan baku seperti CPO, gandum, gula, dan minyak bisa menggerus margin emiten, apalagi kalau kenaikan itu tidak sepenuhnya bisa diteruskan ke harga jual.

Kedua, kondisi fiskal juga jadi perhatian. Penerimaan pajak yang melemah berpotensi membatasi ruang belanja pemerintah, sehingga multiplier effect ke konsumsi masyarakat bisa saja tidak sekuat yang diharapkan. Ditambah lagi, depresiasi rupiah terhadap dolar AS bisa meningkatkan beban impor bahan baku dan menekan profitabilitas.

Kita juga kembali mengalami deflasi menjelang Lebaran. Secara teori, harga yang turun bisa terlihat positif bagi daya beli. Tapi di sisi lain, deflasi menjelang periode konsumsi tinggi justru bisa mencerminkan permintaan yang belum benar-benar kuat. Artinya, walaupun ada dorongan musiman, pemulihan konsumsi belum tentu merata.

Jadi, Ramadan dan Lebaran tetap menarik sebagai booster kinerja jangka pendek. Namun untuk tren yang lebih berkelanjutan, pasar tetap perlu mencermati risiko biaya, kondisi fiskal, nilai tukar, dan sinyal daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |