Data Center di Mana-Mana, Sedot 2,5 Miliar Galon Air Setahun

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amazon untuk pertama kalinya mengungkap total konsumsi air pusat data atau data center mereka secara global. Dalam laporan yang dirilis Kamis waktu setempat, perusahaan menyebut operasi pusat datanya menarik sekitar 2,5 miliar galon air sepanjang 2025.

Angka tersebut mencakup seluruh jaringan pusat data Amazon di berbagai negara. Meski jejak pusat data perusahaan terus bertambah, Amazon mengklaim berhasil memangkas penggunaan air sebesar 2% di fasilitas yang dimiliki dan dioperasikan langsung dibandingkan 2024.

Berdasarkan laporan keberlanjutan perusahaan yang dikutip Bloomberg, efisiensi penggunaan air Amazon mencapai 0,12 liter per kilowatt-jam listrik pada 2025, membaik dari 0,15 liter per kilowatt-jam pada tahun sebelumnya.

Amazon menyebut angka tersebut lebih dari tujuh kali lebih efisien dibandingkan rata-rata industri yang mereka hitung sebesar 0,84 liter per kilowatt-jam.

Sebagai perbandingan, Amazon mengutip data Environmental Protection Agency (EPA) yang menyebut warga Amerika Serikat menggunakan sekitar 3,3 triliun galon air setiap tahun untuk menyiram halaman dan taman. Jumlah itu lebih dari 1.300 kali lipat dibandingkan konsumsi air pusat data Amazon sepanjang tahun lalu.

Wakil Presiden Amazon Web Services (AWS) yang membawahi operasional pusat data, Kerry Person, menepis anggapan bahwa industri pusat data menghabiskan sumber daya air dalam jumlah sangat besar.

"Jika Anda melihat pemberitaan saat ini, industri pusat data tampaknya mengonsumsi seluruh air di dunia," kata Person, dikutip dari QZ, Jumat (12/6/2026).

"Ketika Anda benar-benar melihat datanya dan meneliti detailnya, tidak ada yang lebih jauh dari kenyataan dibandingkan anggapan tersebut," lanjutnya.

Amazon menjelaskan sekitar sembilan dari setiap sepuluh jam operasional pusat datanya, server didinginkan hanya dengan memanfaatkan udara luar. Ketika suhu luar ruangan melampaui sekitar 85 derajat Fahrenheit atau sekitar 29,4 derajat Celsius, sistem akan beralih ke pendinginan evaporatif.

Dalam sistem tersebut, udara dialirkan melalui filter yang jenuh air sehingga panas dan kelembapan berkurang sebelum masuk ke ruang server. Amazon mengatakan telah menaikkan ambang suhu aktivasi pendinginan berbasis air, sehingga mampu mengurangi penggunaan air sekitar 50% pada fasilitas yang sebanding.

Namun, metode perhitungan efisiensi penggunaan air Amazon berbeda dengan sebagian besar perusahaan lain di industri. Perusahaan memasukkan tidak hanya air yang hilang akibat penguapan selama proses pendinginan, tetapi juga cairan yang dialirkan ke sistem pembuangan limbah.

Pendekatan ini membuat angka penggunaan air Amazon terlihat lebih tinggi dibandingkan pesaing yang hanya menghitung kehilangan air akibat penguapan, sehingga menyulitkan perbandingan langsung antarperusahaan.

Sebagai gambaran, efisiensi penggunaan air milik Microsoft tercatat sebesar 0,27 liter per kilowatt-jam pada tahun fiskal terakhir yang dilaporkan perusahaan.

Meski demikian, laporan Amazon belum memasukkan konsumsi air dari fasilitas kolokasi atau pusat data pihak ketiga yang disewa perusahaan. Pada 2024, fasilitas tersebut menyumbang sekitar seperlima kapasitas komputasi Amazon. Laporan itu juga tidak menghitung penggunaan air tidak langsung untuk memproduksi listrik yang digunakan pusat data.

Amazon menargetkan pada 2030 dapat mengembalikan lebih banyak air ke lingkungan dibandingkan jumlah yang digunakan operasionalnya. Perusahaan mengklaim telah mencapai sekitar 75% dari target tersebut melalui lebih dari 50 proyek yang diumumkan dan diperkirakan mampu memulihkan lebih dari 5,8 miliar galon air per tahun saat seluruhnya beroperasi.

Pengungkapan data ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap pembangunan pusat data di Amerika Serikat, terutama seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Karyawan Amazon dan pejabat kota di Seattle mendorong aturan yang lebih ketat terkait pembangunan pusat data.

Para peneliti dan kelompok advokasi masyarakat juga meminta perusahaan penyedia layanan cloud lebih transparan terkait penggunaan sumber daya. Kekhawatiran terbesar muncul di wilayah barat AS yang menghadapi tekanan air akibat kekeringan, sementara ekspansi pusat data terus berlangsung.

Saat ini, selain Amazon, hanya Google dan Meta yang secara rutin mempublikasikan data konsumsi air yang dirinci hingga tingkat fasilitas pusat data individual.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |