Cuma 4 Hari Bursa, Tapi Ada 8 Bom Sentimen yang Bisa Guncang RI

4 hours ago 2
  • Pasar keuangan RI bergerak beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, IHSG ambruk dihantam aksi jual asing, rupiah menguat, sementara yield SBN 10 tahun stagnan
  • Wall Street ditutup mixed, tetapi S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor baru ditopang saham teknologi dan harapan sempat hidupnya kembali negosiasi AS-Iran
  • Pasar keuangan hari ini hingga sepekan ke depan akan mencermati update negosiasi AS-Iran, kocok ulang indeks BEI, keputusan suku bunga BOJ dan The Fed, inflasi PCE AS, serta data manufaktur China dan AS.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk, sementara rupiah justru berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada hari ini, Senin (27/4/2026), dan sepanjang pekan ini. Sentimen utama masih datang dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, pergerakan dolar AS, hingga arah harga energi global.

IHSG ditutup ambruk pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Indeks melemah 3,38% atau 249,49 poin ke level 7.129,49.

Pada perdagangan Jumat, tekanan terhadap IHSG terlihat sangat luas. Tercatat 701 saham melemah, hanya 92 saham menguat, sementara 166 saham lainnya tidak bergerak.

Nilai transaksi pasar saham terbilang ramai, mencapai Rp24,3 triliun dengan melibatkan 44,8 miliar saham dalam 2,66 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp12.736 triliun.

Sejalan dengan pelemahan IHSG, investor asing juga mencatat aksi jual bersih di seluruh pasar. Total pembelian asing mencapai Rp3 triliun, sementara penjualan mencapai Rp5 triliun, sehingga net sell asing menembus Rp2 triliun.

Tekanan jual asing terutama menghantam saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi saham dengan net sell terbesar, yakni mencapai Rp1,3 triliun. Selain itu, asing juga melepas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp287,5 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp192,4 miliar.

Selain sektor perbankan, asing juga melepas PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), serta saham energi seperti PT Petrosea Tbk. (PTRO) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO).

Berbeda dengan IHSG, rupiah justru berhasil menutup perdagangan terakhir pekan lalu di zona hijau.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,52% ke level Rp17.190/US$ pada perdagangan Jumat (24/4/2026).

Penguatan ini membuat rupiah kembali turun ke bawah level psikologis Rp17.200/US$. Sebelumnya, pada Kamis (23/4/2026), rupiah ditutup melemah 0,64% ke posisi Rp17.280/US$. Level tersebut menjadi posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.

Penguatan rupiah juga terjadi di tengah kondisi eksternal yang belum sepenuhnya mendukung. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY masih menguat 0,07% ke posisi 98,833.

Kondisi tersebut menunjukkan dolar AS masih diburu pelaku pasar global sebagai aset aman. Tekanan eksternal masih datang dari mandeknya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah kembali menipis.

Ketidakpastian di kawasan tersebut juga masih menjaga kekhawatiran terhadap jalur pelayaran strategis dunia. Iran sebelumnya menunjukkan kontrolnya atas jalur penting tersebut, sehingga kepastian pembukaan kembali koridor pelayaran global masih menjadi perhatian pasar.

Situasi ini membuat harga energi tetap berisiko bertahan tinggi dan membebani sentimen pasar global. Bagi Indonesia, tekanan dari harga energi dan kuatnya dolar AS menjadi kombinasi yang sensitif bagi rupiah maupun pasar keuangan domestik.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui operasi pasar yang terukur dan berkesinambungan.

Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dikutip Jumat (24/4/2026).

Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ditutup stagnan di level 6,715% pada perdagangan terakhir pekan lalu.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |