Cara Menabung untuk Berangkat Umrah di 2026

15 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap kali melihat orang lain berangkat umrah, ada satu perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan iri, tapi harap. Harap suatu hari bisa berada di tempat yang sama.

Masalahnya, ketika melihat kondisi keuangan sendiri, harap itu sering terasa terlalu jauh. Gaji pas-pasan. Kebutuhan banyak. Tabungan sering habis di tengah jalan. Padahal, jika melihat lebih dekat, sebagian besar jamaah umrah bukan orang kaya. Mereka hanya orang biasa yang memulai lebih dulu, meski dengan angka kecil.

Dalam proses itulah, menabung umrah menuntut beberapa hal mendasar:

  • Perencanaan yang jelas dan realistis

  • Pengendalian diri dari godaan jangka pendek

  • Kesabaran, sekaligus keberanian untuk menjadikan umrah sebagai prioritas hidup

Banyak orang gagal bukan karena penghasilannya kecil. Kegagalan justru sering terjadi karena:

  • Tidak memiliki sistem yang jelas

  • Tidak tahu arah dan target yang dituju

  • dan tidak benar-benar menempatkan umrah sebagai tujuan nyata, bukan sekadar wacana

Ketika niat tidak diikuti sistem, menabung akan mudah terhenti di tengah jalan.

Berapa Biaya umrah yang Harus Dijadikan Target?

Langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum mulai menabung adalah berdamai dengan angka yang realistis. Menghindari kenyataan justru membuat rencana semakin rapuh.

Saat ini, secara umum, kisaran biaya umrah adalah:

  • Umrah reguler: Rp28 juta - Rp35 juta

  • Umrah plus atau musim ramai: bisa lebih tinggi dari itu

Banyak orang gagal sejak awal karena melakukan kesalahan yang sama, yaitu:

  • mengambil patokan dari angka promo yang jarang benar-benar tersedia

  • tidak memperhitungkan kenaikan harga dari tahun ke tahun

  • menunda dengan harapan biaya umrah akan turun suatu hari nanti

Padahal, faktanya biaya umrah cenderung terus naik seiring waktu, dipengaruhi oleh:

  • fluktuasi kurs mata uang

  • biaya penerbangan internasional

  • akomodasi di Makkah dan Madinah

  • serta regulasi dari pemerintah Arab Saudi

Karena itulah, strategi yang lebih masuk akal bukanlah menunggu harga murah, melainkan mengejar waktu dan memulai lebih awal.

Mengapa Banyak Orang Gagal Menabung untuk umrah?

Sebelum membahas strategi teknis, penting untuk membongkar penyebab kegagalan yang paling sering terjadi. Tanpa memahami ini, kesalahan yang sama akan terus terulang.

1. Menabung Tanpa Tujuan Waktu

Menabung tanpa target keberangkatan membuat dana umrah terasa abstrak. Akhirnya, tabungan hanya menjadi simpanan biasa yang mudah terpakai untuk kebutuhan lain.

2. Mengandalkan Sisa Uang

Menunggu sisa uang hampir selalu berujung pada ketidakkonsistenan. Ketika kebutuhan meningkat, umrah selalu berada di urutan terakhir.

3. Tidak Memisahkan Dana

Dana umrah yang bercampur dengan uang harian sangat rentan bocor. Sekali terpakai, biasanya akan terpakai lagi.

4. Terlalu Fokus pada Nominal Besar

Banyak orang menyerah karena merasa nominalnya terlalu kecil. Padahal, yang paling menentukan keberhasilan adalah konsistensi, bukan jumlah awal.

Prinsip Utama Menabung untuk umrah

Sebelum berbicara soal teknis, ada satu prinsip yang perlu dipahami sejak awal: umrah tidak datang kepada orang yang menunggu, tetapi kepada orang yang memulai.

Banyak jamaah yang akhirnya berangkat bukan karena:

  • Gaji mereka tiba-tiba naik drastis

  • atau mendapatkan rezeki besar secara instan

Sebaliknya, mereka berangkat karena mampu menjaga niat dan melakukan rutinitas kecil secara konsisten dalam waktu yang lama. Langkahnya sederhana, tetapi dijaga dengan kesabaran.

Cara Menabung untuk umrah Langkah demi Langkah

1. Tentukan Target Waktu Keberangkatan

Kesalahan umum saat menabung adalah langsung fokus pada nominal besar. Padahal, pendekatan yang lebih efektif adalah memulai dari waktu.

Contohnya:

  • Target berangkat: 4 tahun

  • Target dana: Rp32 juta

  • Waktu menabung: 48 bulan

  • Tabungan per bulan: ±Rp667.000

Dengan adanya target waktu:

  • Otak lebih mudah menerima rencana

  • Komitmen terasa lebih nyata

  • Strategi menabung bisa disesuaikan dengan kondisi hidup

Target waktu membuat tujuan yang terasa jauh menjadi lebih terukur.

2. Buat Rekening Khusus umrah

Agar dana tidak mudah terpakai, sebaiknya buat rekening khusus dengan karakter:

  • Terpisah dari rekening utama

  • Tanpa kartu debit

  • Tidak terhubung dengan e-wallet

  • Tidak digunakan untuk transaksi lain

Perlakukan dana ini sebagai amanah, bukan tabungan fleksibel yang bisa diambil kapan saja.

3. Bayar umrah di Awal, Bukan di Akhir

Begitu gaji atau penghasilan masuk:

  • Sisihkan dana umrah terlebih dahulu

  • Baru atur kebutuhan hidup lainnya

Bukan sebaliknya:

  • Memenuhi kebutuhan dulu

  • Lalu berharap ada sisa untuk umrah

Prinsip ini terlihat sederhana, tetapi sering menjadi pembeda antara rencana yang berjalan dan rencana yang berhenti di tengah jalan.

4. Mulai dari Nominal yang Tidak Menyiksa

Tidak perlu memaksakan diri dengan angka besar jika itu justru membuat Anda berhenti. Lebih baik memulai dari nominal kecil tetapi konsisten.

Contoh yang realistis:

  • Rp10.000 per hari

  • Rp50.000 per minggu

  • Rp300.000-500.000 per bulan

Yang terpenting bukan besar kecilnya nominal, tetapi tidak pernah berhenti sama sekali.

Simulasi Menabung untuk umrah Berdasarkan Kondisi Nyata

Agar lebih membumi, berikut gambaran sederhana yang sering terjadi di kehidupan nyata.

Simulasi Gaji Rp3.000.000

  • Tabungan: Rp300.000 per bulan

  • Waktu: ±8-9 tahun untuk mencapai target

Simulasi Gaji Rp5.000.000

  • Tabungan: Rp700.000 per bulan

  • Waktu: ±3,5-4 tahun

Simulasi Penghasilan Tidak Tetap

  • Gunakan persentase 5-10% dari setiap pemasukan

  • Menabung setiap kali ada penghasilan

  • Fokus pada konsistensi, bukan kecepatan

Semua skenario ini bukan teori ideal, melainkan praktik yang banyak terjadi di lapangan.

Menabung untuk umrah Saat Masih Punya Utang

Topik ini sensitif, tetapi sangat penting untuk dibahas secara jujur.

Secara realistis:

  • utang konsumtif besar dan mendesak sebaiknya diprioritaskan untuk dilunasi

  • utang ringan dan masih terkendali masih memungkinkan menabung kecil untuk umrah

Hal yang perlu dihindari:

  • menambah utang baru

  • memaksakan DP umrah tanpa kesiapan

  • mengorbankan kebutuhan keluarga

Ibadah seharusnya membawa ketenangan, bukan tekanan baru.

Menabung Dulu atau DP umrah Dulu?

Menabung dulu biasanya lebih aman jika:

  • penghasilan belum stabil

  • belum memiliki dana darurat

  • disiplin finansial masih perlu dibangun

Sementara DP umrah bisa dipertimbangkan jika:

  • arus kas sudah stabil

  • terbiasa menabung secara rutin

  • siap secara mental dan finansial

Euforia promo sering kali menggoda, tetapi kesiapan tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Menabung umrah Pakai Apa yang Paling Aman?

Tabungan Biasa

  • aman dan mudah diakses

  • likuid

  • cocok untuk jangka pendek

Emas

  • cocok untuk jangka menengah

  • relatif lebih tahan terhadap inflasi

  • tetap membutuhkan disiplin

Investasi Berisiko

  • tidak disarankan untuk tujuan umrah

  • karena tujuan utama adalah kepastian, bukan imbal hasil

Pendekatan terbaik adalah memilih cara yang sederhana, aman, dan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Menghadapi Godaan Selama Menabung umrah

Dalam praktiknya, godaan terbesar bukan berasal dari biaya umrah itu sendiri, melainkan dari:

  • gaya hidup

  • tekanan sosial

  • keinginan jangka pendek

Beberapa strategi mental yang bisa membantu:

  • terus mengingat tujuan jangka panjang

  • membayangkan momen keberangkatan

  • menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain

Jika Gagal di Tengah Jalan, Apa yang Harus Dilakukan?

Gagal bukan akhir dari segalanya. Banyak jamaah yang akhirnya berangkat pernah:

  • berhenti menabung

  • memakai dana yang sudah terkumpul

  • kehilangan motivasi

Yang membedakan mereka adalah satu hal sederhana: mereka memulai lagi. Memulai lagi selalu lebih baik daripada berhenti selamanya.

(dag/dag)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |