Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran menyebut keputusan Amerika Serikat yang menangguhkan pemboman terhadap infrastruktur energi mereka sebagai bentuk kekalahan telak bagi Washington. Teheran mengeklaim bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah dipaksa untuk menerima 10 poin rencana yang mereka ajukan sebagai dasar perundingan pada Rabu, (08/04/2026).
Mengutip Russia Today, Teheran menyatakan bahwa langkah tersebut membuktikan posisi tawar mereka yang kuat dalam konflik ini. Pihak Iran menegaskan bahwa dimulainya dialog diplomatik adalah hasil dari kegagalan strategi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
"Langkah ini merupakan kekalahan bersejarah dan telak bagi Amerika Serikat. Washington telah dipaksa untuk menerima rencana 10 poin Teheran sebagai dasar pembicaraan," tulis pernyataan resmi Pemerintah Iran.
Terkait perundingan tersebut, Iran mengeklaim Amerika Serikat telah menyetujui untuk membahas 10 poin proposal yang dikirimkan melalui Pakistan. Isi proposal tersebut mencakup tuntutan komitmen non-agresi dari pihak Amerika Serikat, pengakuan kontrol Iran atas Selat Hormuz, hingga penerimaan terhadap pengayaan uranium.
Selain itu, Iran mendesak pencabutan total seluruh sanksi, penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB dan IAEA, pembayaran reparasi perang, penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari kawasan, serta penghentian perang di semua lini termasuk terhadap perlawanan di Lebanon.
Meski Iran mengeklaim kemenangan, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa dirinya belum menyetujui proposal tersebut secara sepenuhnya. Trump menyebut usulan Teheran baru sekadar landasan awal yang masih memiliki banyak kekurangan untuk dinegosiasikan lebih lanjut.
"Usulan tersebut menawarkan basis yang layak untuk dinegosiasikan. Namun, itu tidak cukup baik dalam bentuknya yang sekarang. Saya akan memerintahkan serangan udara baru yang menghancurkan jika tidak ada kesepakatan akhir yang dicapai dalam batas waktu baru," tegas Donald Trump.
Trump mengumumkan penangguhan pemboman selama dua minggu dengan syarat adanya "gencatan senjata dua sisi". Syarat utamanya adalah Teheran harus menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara "lengkap" dan "segera" untuk menjamin stabilitas pasokan energi dunia.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan bahwa negosiasi resmi akan dimulai pada Jumat, (10/04/2026) di Islamabad, Pakistan. Masa perundingan ini ditetapkan selama dua minggu dan dapat diperpanjang jika terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak.
Situasi ini mendingin setelah sebelumnya Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif meminta Presiden Trump memberikan perpanjangan waktu. Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman mematikan yang menargetkan eksistensi Iran jika permintaannya tidak dituruti.
"Seluruh peradaban akan mati malam ini jika Teheran tidak menyerah pada tuntutan Amerika Serikat," ujar Trump sebelum akhirnya setuju untuk menunda serangan militer tersebut.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]


















































