Bocah 3 Tahun Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan, Keluarga Lapor Polisi

2 hours ago 2

Sleman - Seorang anak berinisial NDMP (3), warga Piyungan, Bantul, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Prambanan, Sleman, DIY. Ibu korban, Anastacia Niken Purwandari (36), menduga anaknya jadi korban malpraktik.

Niken menceritakan ia bersama anaknya datang ke RSUD Prambanan untuk melanjutkan pemeriksaan tumbuh kembang anak. Sebelumnya, hasil pemeriksaan pada April, lingkar kepala anaknya berada di garis merah. Dalam pemeriksaan pada 27 April itu, dokter menyarankan untuk dilakukan CT scan.

"Tapi ternyata di bulan April itu memang dia masih garis merah di situ. Terus dia diperiksa di situ, terus dokter meminta untuk CT scan. Ya sudah, saya mengizinkan," kata Niken saat ditemui wartawan di Mapolda DIY, Depok, Sleman, dilansir detikJogja, Selasa (2/6/2026).

Sebelum dilakukan CT scan, Niken sempat menyaksikan anaknya mendapatkan tiga kali suntikan melalui selang infus. Ia mengaku baru keluar dari ruangan setelah anaknya tertidur dan tidak mengetahui lagi tindakan di dalam ruangan.

"Dia diperiksa suntikan lewat alat infus itu. Di situ tiga kali. Di situ saya mendampingi anak saya. Setelah anak saya tidur, saya baru keluar. Setelah saya keluar itu, saya nggak tahu di dalam dokter melakukan apa," ujarnya.

Niken menuturkan, saat suntikan kedua, anaknya sudah menunjukkan tanda-tanda kurang nyaman dan meminta pulang. Ia pun menggendong anaknya dan berusaha menenangkan.

"Mungkin merasa nggak enak, dia minta udah, mulai nangis. Dia udah mulai minta pulang, pengin ketemu kakaknya, itu udah-udah itu. Terus tak (saya) gendong itu, dia masih tetap nangis, sampai di suntikan ketiga pun dia masih tetap nangis. Sampai dia tertidur masih, tertidur pun di pelukan saya," ujarnya.

Selang beberapa waktu, dokter keluar dari ruangan, dan menyampaikan anaknya muntah dan tidak sadarkan diri.

"Setelah keluar, dokter udah mengatakan anak saya seperti itu kondisinya, yang dia udah muntah, dia udah henti napas. Dia yang udah dipasang alat bantu pernapasan, dia yang udah nggak sadar," katanya.

Masih Ceria Sebelum Tindakan CT Scan

Niken menyebut anaknya masih terlihat ceria sebelum dilakukan tindakan oleh rumah sakit.

"Dia ceria, dia tuh di situ yang masih apa mainan, kan di ada di depan klinik poli itu ada ruang bermain anak. Dia masih di situ, masih mainan, masih lihat-lihat buku," katanya.

Termasuk saat sudah berada di ruang radiologi, ia dan anaknya masih sempat bersenda gurau.

"Di ruang radiologi pun dia juga masih makan makanan, dikasih makanan orang itu juga dia masih dimakan, masih lihat HP, lihat TV, itu dia masih masih aktivitas seperti biasa," ujarnya.

Sementara itu, di lokasi yang sama, salah satu pendamping hukum korban, Anwar Ary Widodo, menduga dalam peristiwa ini ada dugaan pelanggaran SOP atau kelalaian yang dilakukan.

Karena itu, pihaknya melaporkan kasus itu kepada polisi. Laporan itu dilayangkan pada 17 Mei 2026 dengan nomor laporan LP/B/319/V/2026/SPKT/Polda DIY. Dalam laporannya, Niken, melaporkan Direktur RSUD Prambanan dan salah seorang dokter.

Respons Rumah Sakit

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prambanan drg Ratih Susila, M.P.H., saat dimintai konfirmasi menyebut pihaknya merencanakan untuk memberikan keterangan medis untuk keluarga.

"Jadi, saat ini RSUD Prambanan itu sedang merencanakan untuk jadwal kami memberikan keterangan medis kepada pihak keluarga dan kuasa hukumnya. Dan ini kami sedang menunggu jadwal dari kuasa hukum pihak keluarga," ujar Ratih.

Ratih menjelaskan, sesuai prosedur, saat ini rumah sakit sedang melakukan audit medis terkait kasus ini. Namun, untuk hasilnya, Ratih belum bisa menyampaikan. Ia menjanjikan akan memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian dan penyebab meninggalnya korban.

Baca selengkapnya di sini (idh/idh)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |