Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bisnis pergadaian tumbuh subur tahun lalu. Hingga November 2025, industri pergadaian mencatat penyaluran dana senilai Rp 125,44 miliar, naik 42,89% secara tahunan (yoy).
"Disalurkan paling besar ke produk gadai atau 81,92% dari total pembiayaan yang disalurkan," kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulan Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Bisnis gadai tercatat tumbuh paling kencang dibandingkan dengan industri pembiayaan non-bank lain. Multifinance hingga November 2025 masih mengalami tantangan.
Piutang pembiayaan multifinance hanya tumbuh 1,09% yoy menjadi Rp 506,82 triliun. Agusman mengatakan bahwa hal tersebut didorong oleh pembiayaan modal kerja yang naik 8,99% yoy.
Kendati pertumbuhan piutang multifinance berjalan lambat, Agusman mengatakan bahwa profil risiko masih terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross 2,44% dan NPF net 0,85%, relatif sama dengan bulan sebelumnya.
Selain itu, gearing ratio tercatat 2,13 kali, atau di bawah batas maksimal 10 kali.
Sementara itu, pinjaman daring mencatat penyaluran dana sebesar Rp 94,85 triliun, naik 25,45% yoy. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi melambat bila dibandingkan dengan November 2024.
OJK juga melaporkan lonjakan kredit macet. Tingkat wanprestasi lebih dari 90 hari (TWP90) lompat ke level 4,33%. Padahal bulan sebelumnya masih berada di level 2,76%.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]


















































