BGN Akan Labeli Ompreng MBG, Harus Dimakan Sebelum Jam Tertentu

4 hours ago 1
Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) akan memperketat aturan mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG). Setiap ompreng makanan MBG nantinya akan diberi label batas waktu makanan tersebut harus dikonsumsi.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan aturan itu dibuat untuk mencegah makanan MBG dikonsumsi setelah melewati batas waktu aman. Terlebih, masih ditemukan penerima manfaat yang membawa makanan MBG pulang ke rumah.

"Jam berapa harus mulai masak, jam berapa matang, plus maksimal empat jam setelah matang. Jadi nanti akan diberi label, kami sudah instruksikan ke semuanya, harus diberi label di omprengnya itu setiap hari 'Harus dimakan sebelum jam tertentu'," kata Sudaryono di kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudaryono menegaskan makanan MBG sebaiknya tidak dikonsumsi setelah melewati batas waktu yang ditentukan. "Kalau sudah lewat jam, sebaiknya tidak dimakan. Harus dimakan sebelum jamnya," lanjutnya.

Aturan tersebut, kata Sudaryono, penting untuk menjaga keamanan pangan, terutama apabila makanan MBG dibawa pulang dan baru dikonsumsi beberapa jam kemudian. Menurut Sudaryono, BGN menemukan adanya pola penerima manfaat yang membawa pulang sebagian makanan MBG untuk diberikan kepada anggota keluarga di rumah.

Sementara itu, Sudaryono menceritakan pengalamannya saat melakukan inspeksi mendadak di Bogor. Dia menemukan seorang siswa yang tidak menghabiskan makanan MBG karena ingin membawanya pulang untuk sang ibu.

"Kemarin saya ke Bogor yang sidak itu, itu dibelah burgernya. Setengah, saya bilang, 'Kenapa nggak dihabisin?' Dia bilang, 'Saya mau kasih ke ibu saya. Karena ibu saya belum pernah makan burger'," tuturnya.

Menurutnya, niat siswa tersebut menunjukkan kepedulian terhadap keluarganya. Namun, dari sisi keamanan pangan, makanan yang dibawa pulang memiliki risiko apabila dikonsumsi setelah melewati batas waktu aman.

"Ini sedih, namun demi keamanan, ya, demi keamanan pangan, demi keamanan supaya enggak keracunan ini juga menjadi penting," katanya.

BGN juga akan memperkuat edukasi di sekolah agar siswa mengonsumsi makanan MBG sesuai waktu yang ditentukan. Sudaryono menjelaskan guru tidak bertugas mengurusi distribusi ompreng. Setiap sekolah memiliki dua personel yang mendapat insentif untuk membantu proses distribusi MBG dan guru diminta mendampingi siswa saat makan sebagai bagian dari edukasi.

"Adalah ikut menyertai makan bersama murid-muridnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka untuk edukasi kepada murid-murid siswa di kelas itu," jelasnya.

Guru nantinya membantu mengedukasi siswa mengenai kebersihan tangan, antre mengambil makanan, berdoa, hingga mengonsumsi makanan dengan baik. Guru juga dapat mengingatkan kandungan gizi dan batas waktu konsumsi makanan.

"Sudah cuci tangankah? Antre mengambil ompreng, duduk, berdoa, makan dengan baik, dijelaskan kandungan gizinya, termasuk dimakan sebelum jam atau harus dimakan sebelum jam berapanya," imbuhnya.

BGN Mau Hubungkan CCTV 27 Ribu Dapur MBG

Selain itu, BGN bakal menyiapkan sistem pengawasan baru untuk memastikan proses produksi MBG berjalan sesuai standar. BGN berencana menghubungkan CCTV di seluruh dapur MBG ke sistem di kantor pusat.

"Kami sedang bagaimana caranya mengintegrasikan CCTV di semua dapur bisa terintegrasi kepada kami seluruhnya di kantor pusat," kata Sudaryono.

Menurut Sudaryono, seluruh dapur MBG diwajibkan memasang CCTV. Rekaman kamera nantinya akan diintegrasikan dengan sistem teknologi informasi BGN sebagai salah satu instrumen pengawasan.

"Jadi CCTV kami ingin semua ini kan semua dapur pasang CCTV, nah itu kami ingin CCTV-nya itu connect ke dalam sistem kita, sistem IT kita yang ada di kantor pusat," ujarnya.

Bakal Temui BRIN Bahas Pendeteksi Makanan Basi

Sementara itu, Sudaryono juga bakal menemui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membahas teknologi pendeteksi makanan basi. Teknologi tersebut diharapkan bisa membantu mencegah kasus keracunan dalam MBG.

Sudaryono mengatakan pertemuan dengan BRIN rencananya dilakukan dalam waktu dekat. Sudaryono ingin melihat secara langsung teknologi yang sebelumnya sempat dipaparkan BRIN kepada Presiden Prabowo Subianto.

"BRIN itu tadinya mau saya panggil hari ini, tapi beliaunya ada yang pendeteksi basi di nasi, di apa kan ada yang ditunjukkan ke Presiden. Rencananya Senin apa Selasa kami minta untuk bisa dipaparkan kepada kami," imbuhnya.

(bel/rfs)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |