Besok Ada Pengumuman Penting Buat RI: Bisa Jadi Kabar Baik!

22 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan akan sedikit melandai pada November 2025 sejalan dengan turunnya harga komoditas beras. Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi November 2025 pada Senin (1/12/2025).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari sebelas lembaga/institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mencatat inflasi 0,22% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada November 2025.

Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 2,80%, dengan inflasi inti stabil di 2,3%.

Sebagai perbandingan, inflasi pada Oktober 2025 tercatat 0,28% (mtm) dan 2,86% (yoy), sementara inflasi inti sebesar 2,36%.

Melihat historisnya, inflasi Indonesia pada November selama lima tahun terakhir rata-rata berada di bawah 0,20% (mtm).

Kepala ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan bahwa inflasi pada November masih dipengaruhi oleh pergerakan harga pangan.

Menurutnya, sejumlah komoditas seperti ayam ras, telur, cabai, dan bawang masih menunjukkan kenaikan harga, sementara beberapa komoditas lain mulai terkoreksi. Ia menilai kondisi ini membuat tekanan inflasi tetap terjaga meskipun belum sepenuhnya mereda.

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang, menambahkan bahwa pola musiman menjelang akhir tahun juga mulai terlihat, terutama pada komoditas pangan. Permintaan protein hewani meningkat, sementara harga cabai dan sayuran terdorong naik akibat periode bukan musim tanam yang menekan pasokan.

Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Dexlite turut memberikan tekanan tambahan melalui kenaikan biaya transportasi dan distribusi. Harga emas yang masih tinggi pun menjadi pendorong bagi inflasi inti melalui peningkatan harga perhiasan.

"Tekanan inflasi saat ini lebih banyak berasal dari komoditas pangan dan energi, tetapi skalanya masih terbatas karena beberapa komoditas utama justru mulai turun," ujar Hosianna kepada CNBC Indonesia.

Sementara itu, tim ekonom Bank Mandiri melihat tanda-tanda meredanya tekanan inflasi dari sisi pasokan.

Mereka mencatat bahwa harga beras, ayam, bawang putih, dan bawang merah menunjukkan penurunan di sejumlah wilayah, mencerminkan pasokan yang relatif baik. Tekanan dari administered prices seperti tarif angkutan udara dan BBM non-subsidi dinilai masih terbatas, sehingga memberikan ruang bagi inflasi untuk kembali melandai.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) turut mengonfirmasi hal tersebut.

Harga beras pada November 2025 tercatat turun 0,64% ke Rp15.717/kg, sementara cabai rawit merah justru naik 1,06% menjadi Rp45.953/kg.

Di sisi lain, harga daging ayam dan telur masing-masing naik tipis 0,36% dan 0,47%, mengindikasikan bahwa tekanan inflasi pangan masih bertahan pada komoditas tertentu.

Sementara itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi juga memberi kontribusi terhadap inflasi bulan ini. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah kompak menaikkan sejumlah harga BBM non-subsidi mulai 1 November 2025, terutama untuk jenis solar nonsubsidi dan diesel premium.

Di SPBU Pertamina wilayah Jakarta, misalnya, harga BBM Dexlite ditetapkan naik menjadi Rp13.900 per liter dari sebelumnya Rp13.700 per liter pada periode Oktober 2025. Begitu pula dengan Pertamina Dex, yang kini dibanderol Rp14.200 per liter, naik dari Rp14.000 per liter pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, harga BBM jenis bensin tidak mengalami perubahan. Pertamax (RON 92) tetap dibanderol Rp12.200 per liter, dan Pertamax Green (RON 95) masih dijual pada harga Rp13.000 per liter, sama seperti periode Oktober.

Selain inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca perdagangan Oktober 2025. Polling CNBC menunjukkan surplus diperkirakan berada di US$3,69 miliar, turun dibandingkan surplus September yang mencapai US$4,34 miliar.

Ekonom Bank Mandiri menilai penyempitan surplus ini sejalan dengan melemahnya ekspor komoditas utama di tengah penurunan harga global, sementara impor meningkat menjelang akhir tahun karena kebutuhan restocking industri dan kenaikan permintaan energi. Mereka mencatat bahwa sejumlah komoditas seperti batu bara dan nikel mengalami koreksi harga, sedangkan impor migas dan barang modal mulai merangkak naik.

"Penyempitan surplus terutama dipengaruhi pelemahan ekspor dan kenaikan impor menjelang Nataru. Permintaan dalam negeri mulai menguat, tetapi kondisi harga komoditas global menahan kinerja ekspor," ujar tim ekonom OCE Bank Mandiri.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |