Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dengan truk tangki PT Seleraya di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, kembali bertambah. Salah satu korban meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Rupit, Jumat.
Kasatlantas Polres Muratara AKP M Karim saat dikonfirmasi mengatakan korban bernama Muhamad Fahrul Hubaidi (32), warga Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, meninggal dunia sekitar pukul 11.00 WIB akibat luka bakar serius yang dideritanya. Korban sebelumnya dirawat secara intensif di ruang ICU RSUD Rupit karena mengalami luka bakar hingga sekitar 90 persen.
"Korban atas nama Fahrul Hubaidi meninggal dunia pada pukul 11.00 WIB saat menjalani perawatan di RSUD Rupit," kata dia dilansir Antara, Jumat (8/5/2026).
Dia menjelaskan, sebelum meninggal dunia, korban direncanakan akan dirujuk ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang menggunakan ambulans melalui jalur darat untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Namun, kondisi korban terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sebelum proses evakuasi dilakukan.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendata seluruh korban serta penanganan lanjutan terkait kecelakaan maut tersebut. Sementara itu, belum diketahui secara pasti apakah jenazah korban akan dibawa ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang atau langsung dipulangkan ke pihak keluarga.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri menemukan total 17 jenazah korban kecelakaan bus ALS. Body part itu berasal dari 16 kantong jenazah yang diterima di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.
Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang Kombes Budi Susanto mengatakan penemuan tersebut didapat setelah tim melakukan pemeriksaan ulang terhadap seluruh kantong jenazah korban.
"Pada hasil penelusuran dan pendalaman hari ini, kami menemukan 17 body part atau tubuh jenazah dari 16 kantong jenazah," kata Budi Susanto.
Dia menjelaskan, dalam satu kantong jenazah, ditemukan dua bagian tubuh yang saling menempel di area ketiak, sehingga jumlah korban bertambah setelah dilakukan rekonsiliasi. Satu bagian tubuh tambahan tersebut diduga merupakan anak berusia di bawah lima tahun.
"Kami belum bisa menentukan jenis kelaminnya karena kondisinya lebih kecil dan hancur. Namun dari beberapa bagian tubuh yang diperiksa, kami menduga itu anak-anak usia di bawah lima tahun," katanya.
Tim DVI saat ini masih fokus mengidentifikasi korban melalui pencocokan data antemortem dan postmortem yang diperoleh dari keluarga korban. Informasi keluarga korban diterima melalui layanan hotline maupun secara langsung di pos antemortem RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.
Untuk berbagai properti yang ditemukan pada korban, seperti aksesori dan gigi, belum dapat dijadikan dasar penetapan identitas secara pasti. Jadi, tim DVI tidak berpedoman pada data manifes penumpang, melainkan fokus pada identifikasi forensik.
"Mengenai data manifest memang secara khusus kami tidak memegang data tersebut siapa penumpangnya siapa, karena memang sama-sama kita ketahui rekan-rekan bahwa bus ini kan tidak seperti pesawat yang setiap orang naik harus punya tiket. Tapi yang kita lakukan di sini hanya terfokus kepada identifikasi saja," kata Budi.
(wnv/isa)










































