Apa Perbedaan Kemarau dan El Nino? Simak Pengertiannya!

2 hours ago 2

Jakarta -

Kemarau dan El Nino merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun El Nino sering dikaitkan dengan musim kemarau, keduanya memiliki karakteristik masing-masing.

Bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau adalah musim yang pasti datang setiap tahun, sedangkan El Nino adalah variabilitas iklim antar tahunan yang dapat datang dan membuat kemarau menjadi lebih kering. Berikut rincian perbedaan kemarau dan El Nino.

- Kemarau:

  • Variabilitas iklim normal yang bersifat musiman
  • Terjadi setiap tahun
  • Akibat angin monsun Australia membawa massa udara kering

- El Nino:

  • Anomali atau penyimpangan iklim
  • Terjadi periodik antara 3-7 tahun sekali
  • Akibat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah meningkat

Dampak Kemarau Lebih Kering

Masyarakat harus waspada dengan hal-hal berikut jika terjadi kemarau yang lebih kering.

  • Sumber air bersih berkurang
  • Polusi udara meningkat
  • Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat
  • Produksi pembangkit listrik tenaga air menurun
  • Risiko gagal panen akibat kekeringan

Selain itu, kemarau yang lebih kering juga dapat memberikan peluang seperti:

  • Produksi garam kualitas tinggi meningkat
  • Kualitas komoditas hortikultura lebih baik
  • Pengerjaan proyek infrastruktur tidak terganggu cuaca
  • Produksi listrik tenaga surya meningkat

Tips Persiapan Hadapi Kemarau dan El Nino

Berikut hal-hal yang bisa dilakukan sebagai persiapan menghadapi kemarau dan El Nino.

  • Gunakan air secara hemat dan bijak
  • Tidak melakukan pembakaran sembarangan
  • Pilih komoditas tanaman yang tahan kering dan usia tanam lebih pendek
  • Mulai tampung air hujan dari sekarang
  • Jaga kesehatan, cukupi kebutuhan air minum dan pakai masker

Hal-hal yang Perlu Diketahui Soal Kemarau 2026

  • La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3%), Mei (184 ZOM; 26,3%), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3%) diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
  • Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju (325 ZOM; 46,5%) dan sama dengan normalnya (173 ZOM; 23,7%).
  • Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM; 64,5%) diprediksi pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (429 ZOM; 61,4%) diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026.
  • Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau maju (410 ZOM; 58,7%) dan sama dengan normalnya (142 ZOM; 20,3%).
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (400 ZOM; 57,2%) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.

(kny/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |